Kamis, 29 Januari 2009

sosialisme abad 21: kamilah reformis dari kamu revolusioner!!

Diposting oleh Dipa nusantara arsyan ideology

Ted Sprague

SEMENJAK berkobarnya revolusi di Amerika Latin yang dipimpin rakyat Venezuela, ide sosialisme kembali bangkit dari tidurnya. “Sosialisme Abad ke 21” begitu bunyinya, sebuah frase yang dipopulerkan oleh Presiden Chavez, sebagai sosialisme yang bebas dari distorsi Stalinisme. Bagi rakyat banyak, Sosialisme abad ke 21 merupakan simbol penolakan terhadap kapitalisme. Ia merupakan suatu hardikan kepada Francis Fukuyama, yang mengklaim akhir sejarah dan kemenangan mutlak kapitalisme.

Tetapi lebih dari itu, konsep Sosialisme Abad ke 21 sangatlah longgar. Apakah ini adalah sosialisme yang benar-benar baru? Para intelektual kiri dan kanan serta para aktivis, berlomba-lomba menulis buku mengenai sosialisme ini. Mereka berusaha menuangkan isi yang baru. Tetapi, apa sebenarnya isi baru Sosialisme Abad ke 21 ini?

Ada yang mengatakan, Sosialisme Abad ke 21adalah pembenaran untuk jalan parlementer menuju sosialisme; tentu saja ini berarti kita harus menutup mata kita terhadap aksi-aksi massa yang telah berulang kali menyelamatkan revolusi Bolivarian. Ada juga yang mengatakan, Sosialisme Abad ke 21 adalah sosialisme a la Amerika Latin yang bernuansakan tradisi penduduk asli Amerika Latin, bahwa sosialisme ini tidak diimpor dari Eropa (baca Marx dan Engels) dan, sebab dari itu, bebas dari kecongkakan orang putih.

Dari semua tafsiran akan apa sosialisme ini, yang paling keras diteriakkan oleh para intelektual bahwa Sosialisme Abad Ke 21 merupakan sebuah sosialisme dimana semua kelas di dalam masyarakat dapat bekerja sama untuk mencapai kemakmuran bersama: buruh, tani, pedagang kecil, ….DAN para bos-bos besar! Yang dibutuhkan adalah sebuah sistem sosialisme yang berdampingan dengan sistem kapitalisme. Sedikit demi sedikit kapitalisme direformasi hingga kita mencapai tahapan sosialisme (kasarnya, mulai 90 persen kapitalisme, 10 persen sosialisme; lalu 80 persen kapitalisme 20 persen sosialisme, dan seterusnya, hingga kita mencapai 100 persen sosialisme). Dibungkus jargon-jargon baru dan radikal, para intelektual ini, yang diwakili oleh Heinz Dieterich1, bersorak sorai: “Kita telah menemukan sebuah formulasi sosialisme yang baru. Ide-ide Marx dan Engels dari abad 19 sudah usang dan tidak cocok dengan abad sekarang, mari kita campakkan mereka dan bersama-sama menuju ke era yang baru: Sosialisme Abad ke 21!”

Sosialisme yang baru?

Tetapi, apakah formulasi mereka ini merupakan sesuatu yang baru? Bila kita teliti lebih seksama, ternyata ide Sosialisme abad ke 21 tersebut, hanyalah ide-ide tua yang sudah berulang kali dijawab dan dihancurkan oleh Marx dan Engels. Engels di dalam bukunya Anti-Duhring (1878), menghancurkan ide Herr Eugen Dühring yang mengklaim bahwa dia telah menemukan satu filosofi yang baru, satu sistem sosialisme yang baru. Kemudian, Rosa Luxemburg di dalam karya monumentalnya Reform or Revolution (1908), kembali harus menjawab Eduard Bernstein yang mengklaim bahwa abad ke 20 telah membuka jalan bagi sosialisme yang baru (baca Sosialisme Abad ke 20), yang dapat diraih dengan jalan reformasi semata.

100 tahun kemudian, dengan judul yang mirip, Alan Woods2 menerbitkan buku Reformism or Revolution: Marxism and Socialism of 21st Century, a reply to Heinz Dieterich3, untuk menjawab Heinz Dieterich yang mengklaim telah menemukan konsep sosialisme yang baru, Sosialisme abad ke 21. Kutipan dari buku Alan:

“Mengenai ide Sosialisme abad ke 21 yang ‘baru dan orisinil’ ini, saya hanya akan mengatakan: bahwa sampai hari ini, saya belum menemukan satu ide baru pun dari kumpulan tulisan-tulisan Dieterich dan kawan-kawannya. Yang saya temui adalah ide-ide tua dan antik yang telah diangkat dari tong sampah sejarah yakni, ide-ide yang tidak ilmiah dan utopis yang sudah dijawab oleh Marx, Engels, dan Lenin. Ini adalah ide-ide yang seharusnya ditinggalkan di zaman pra-sejarah gerakan buruh. Ide-ide sosialisme utopis ini dibersihkan dari debu-debunya dan disajikan sebagai Sosialisme Abad ke 21. Dan ada orang-orang naif yang menanggapinya dengan serius”

Heinz Dieterich tampil di arena internasional sebagai kawan Revolusi Bolivarian, yang memberikan nasihat kepada aktivis-aktivis Venezuela yang jujur. Dan, inilah mengapa Alan merasa perlu untuk menulis satu buku khusus untuk menjawab satu per satu ‘nasehat-nasehat’ Heinz Dieterich dan mengeksposnya. Artikel ini terlalu pendek untuk bisa menguraikan satu-per-satu poin-poin Heinz Dieterich dan konternya dari Alan Woods. Akan tetapi, secara garis besar, Heinz menentang nasionalisasi aset-aset kelas kapitalis dan menyerukan sosialisme utopis yakni, sistem kapitalisme yang eksis bersama-sama dengan sistem sosialisme, dimana perlahan-lahan sosialisme akan menggantikan kapitalisme.

Perjuangan Ideologi: Bagian penting dari perjuangan kelas

Banyak sekali aktivis kiri yang tidak pernah mendengar Heinz, apalagi membaca tulisan-tulisannya. Dan ini mengundang satu pertanyaan: Mengapa kita harus repot-repot menanggapi ide-ide Heinz? Saya rasa, pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya. Ide-ide Heinz-lah yang harus dijawab, yakni ide-ide reformis yang kerap bersembunyi di dalam jargon-jargon Sosialisme abad ke 21, ide-ide tua yang diberi bungkusan baru untuk membingungkan kaum muda dan pekerja. Di dalam perjuangan kelas, pengorganisiran dan mobilisasi massa bukanlah satu-satunya lahan perjuangan yang harus digarap. Satu lagi arena perjuangan yang penting, perjuangan ideologi.


Kelas kapitalis, dengan medianya, sekolahnya, intelektual-intelektual bayaran mereka, telah menciptakan suatu kabut ideologi yang sangat tebal untuk membingungkan kelas pekerja. Ideologi kapitalisme biasanya mudah dihancurkan bila rakyat pekerja sudah mulai bergerak. Tetapi, ideologi yang paling berbahaya adalah reformisme yang berjubah sosialisme, layaknya serigala berbulu domba. Dengan lantangnya kaum reformis mengutuk kapitalisme dengan jargon-jargon sosialisme. Akan tetapi, pada saat-saat yang menentukan, reformismelah yang kerap menyelamatkan kapitalisme dari kehancuran mutlaknya.

Buku Alan Woods terbaru ini, bukan diterbitkan untuk dibaca oleh kaum intelektual dan disimpan di rak buku mereka. Justru sebaliknya, buku ini ditujukan kepada rakyat pekerja, terutama di Venezuela, sebagai senjata untuk melawan ide-ide reformisme. Semenjak penerbitannya (dalam bahasa Spanyol, lalu kemudian dalam bahasa Inggris), Alan Woods telah melakukan tur buku (di sini) di sembilan negara bagian Venezuela. Ribuan buruh, mahasiswa, kaum miskin kota, dan petani dengan antusias menghadiri tur buku tersebut. Yang patut disebut adalah pertemuannya dengan ribuan buruh minyak PDVSA di San Tome, Managos, Morical; 600 delegasi buruh pabrik mobil dari seluruh Venezuela; ratusan buruh Venalum (pabrik Aluminum negara); ratusan buruh dari SIDOR (pabrik besi baja yang baru saja dinasionalisasi); dan pemimpin-pemimpin nasional PSUV (Partai Persatuan Sosialis Venezuela). PDVSA (Perusahaan Minyak Negara Venezuela) lalu memutuskan untuk memesan 10 ribu kopi buku tersebut untuk dibagi-bagikan kepada pekerjanya.

Saking popularnya tur buku ini, Alan Woods diundang untuk hadir di acara TV nasional Venezuela (Venezolana de Televisión) untuk berbicara mengenai buku terbarunya. Esok harinya, Presiden Chavez yang mendengar mengenai Alan Woods dan tur bukunya dari acara televisi tersebut, langsung mengundang Alan untuk bertemu. Sebulan kemudian, Chavez di dalam acara Alo Presidente (episode 315, 27 Juli) mengutip buku tersebut; dia mengatakan kalau dia sedang membaca buku ini dengan sangat teliti. Ini berita yang harus disambut dengan gembira, terutama kalau kita melihat belakangan ini Chavez yang dikelilingi oleh birokrat-birokrat reformis (Chavista kanan), mulai mengambil jalan reformisme. Kita hanya bisa berharap kalau Chavez bisa mengambil pelajaran revolusioner dari buku Alan.

Akan tetapi, pemeran utama dari Revolusi Bolivarian tetaplah rakyat Venezuela: kaum buruh, petani, miskin kota, dan kaum muda. Untuk merekalah buku tersebut ditujukan, supaya rakyat pekerja Venezuela dapat memilah reformisme dari sosialisme. 10 tahun sudah revolusi ini berjalan, dan hanya keberanian rakyat pekerja Venezuela yang memberikan nafas panjang bagi proses revolusi ini. Di setiap tikungan, bukan hanya kaum oligarki Venezuela yang harus dihadapi oleh rakyat pekerja Venezuela, tetapi, juga para ‘kawan’ revolusi yang menawarkan nasehat Sosialisme abad ke 21 mereka.

Ide-ide sosialisme ilmiah sudahlah diformulasikan oleh Marx dan Engels, dan mereka masihlah relevan, apalagi dalam periode sekarang. Sejarah sudah membuktikan kebenaran ide-ide mereka. Kita tidak perlu ide yang baru (atau yang mengaku baru) bila yang lama masih benar adanya. Yah, tentu saja detil-detil ide Marxisme akan berbeda di situasi yang berbeda, tetapi ide umumnya masih sama: sosialisme hanya bisa dicapai dengan menghancurkan relasi produksi kapitalisme yakni, menyita hak milik alat produksi, dan menghancurkan negara kapitalis dan bangun negara buruh yang baru.***

Ted Sprague, Aktivis International Marxist Tendency, Montreal; Hands Off Venezuela.

Catatan Kaki:
1 Heinz Dieterich (1943 - ) adalah seorang ahli sosiologi dan analisa politik kelahiran Jerman, yang sekarang tinggal di Meksiko. Dia banyak menulis mengenai konflik di Amerika Latin.

2Alan Woods (1944 - ) adalah seorang aktivis politik dari Inggris, salah satu pemimpin dari International Marxist Tendency. Pada tahun 1970, Alan aktif di Spanyol dalam melawan kediktaturan Franco. Dia sudah menulis banyak buku menge, salah satunya adalah Reason in Revolt (http://www.marxist.com/reason-in-revolt-bahasa-indonesia.htm) yang sudah diterbitkan di Indonesia.

3 Penerbit Wellred sudah ada rencana untuk menerjemahkan buku Alan Woods ke dalam Bahasa Indonesia dan menerbitkannya.

Jika Hiu adalah Manusia

Diposting oleh Dipa nusantara arsyan ideology

Bertolt Brecht (1898-1956) adalah seorang penyair, penulis, dan sutradara drama teater revolusioner dari Jerman. Berikut ini adalah salah satu cerita pendek yang dia tulis dan terkumpulkan dalam buku "The Stories of Mr. Keuner".

Tuan K ditanya oleh anak perempuan majikannya, "Jika hiu-hiu adalah manusia, apakah ia akan baik kepada ikan-ikan kecil?"

"Tentu saja," jawabnya. "Jika hiu adalah manusia, mereka akan membuat kotak-kotak besar di laut untuk ikan kecil, dengan bermacam-macam makanan di dalamnya, sayuran dan binatang. Mereka akan memastikan kotak itu selalu berisi air segar, mereka akan membuat bermacam-macam program sanitasi. Contohnya, jika seekor ikan kecil terluka siripnya, akan segera diobati sehingga mereka tidak akan mati dan hilang sebelum menjadi santapan ikan hiu. Supaya ikan-ikan kecil itu tidak menjadi murung, di tempat itu akan ada festival-festival air yang besar dari waktu ke waktu; karena ikan yang bahagia lebih enak rasanya daripada ikan yang murung."

"Tentunya mereka juga akan disekolahkan di kotak-kotak besar itu. Di sekolah-sekolah ini ikan-ikan kecil akan belajar bagaimana cara berenang ke rahang hiu. Mereka harus mengetahui geografi supaya mereka dapat menemukan hiu besar yang terbaring malas di suatu tempat. Subjek utamanya tentu adalah pendidikan moral bagi ikan-ikan kecil. Mereka akan diajarkan bahwa mengorbankan diri sendiri dengan bahagia adalah hal yang paling baik dan paling indah di dunia dan bahwa mereka harus mempercayai para hiu, terutama ketika para hiu berkata bahwa mereka akan menyediakan sebuah masa depan yang indah. Ikan-ikan kecil akan diajarkan bahwa masa depan ini hanya bisa mereka dapat jika mereka belajar kepatuhan. Ikan-ikan kecil harus waspada kepada semua tendensi-tendensi dasar, materialis, egoistis, dan Marxis, dan jika salah satu dari mereka melanggar maka mereka harus segera melaporkannya ke hiu."

"Jika hiu adalah manusia, tentu saja mereka juga akan saling berperang satu sama lain untuk menguasai kotak ikan yang lain dan ikan-ikan kecil lainnya. Mereka akan mengajarkan ikan kecil bahwa terdapat perbedaan besar antara mereka dengan ikan-ikan kecil yang dimiliki oleh hiu-hiu lain. Para ikan kecil ini diberitahukan bahwa ikan-ikan kecil itu bisa disebut bisu, mereka diam dalam bahasa yang berbeda sehingga mereka tidak dapat mengerti satu sama lain. Di dalam peperangan, setiap ikan kecil yang dapat membunuh beberapa ikan kecil lawan, yang diam dalam bahasanya sendiri, akan dihadiahi sebuah medali kecil yang terbuat dari rumput laut dan diberi gelar Pahlawan."

"Jika hiu adalah manusia, tentunya akan ada seni, akan ada gambar-gambar yang indah, dimana gigi-gigi hiu akan digambarkan dengan warna yang indah dan rahangnya menjadi taman yang indah, dimana ikan kecil dapat berlari-lari dengan bahagia. Teater-teater di bawah laut akan menampilkan ikan kecil yang heroik berenang ke dalam rahang hiu dengan antusias, dan musik pun sangat indah mengiringinya, orkestra akan memandunya, ikan-ikan kecil akan bermimpi berenang ke rahang hiu, tertidur dengan khayalan yang paling menyenangkan."

"Agama juga akan ada jika hiu adalah manusia. Agama ini akan mengajarkan bahwa ikan kecil hanya akan memulai hidup yang sesungguhnya di dalam perut hiu."

"Selain itu, jika hiu adalah manusia, ikan kecil tidak akan lagi setara seperti sekarang. Beberapa darinya akan diberikan posisi-posisi penting dan ditempatkan di atas ikan-ikan kecil lain. Mereka yang sedikit lebih besar bahkan akan diperbolehkan untuk memakan yang lebih kecil. Ini disetujui oleh para hiu, dengan begitu mereka akan mendapatkan makanan yang lebih besar. Ikan kecil yang lebih besar dari ikan kecil lain akan menempati pos-pos mereka, akan mejaga ketertiban di antara ikan-ikan kecil, menjadi guru, menjadi perwira tentara, insinyur untuk membangun kotak-kotak ikan, dll."

"Singkatnya, laut hanya akan mulai menjadi berbudaya jika hiu adalah manusia."

Pengantar Untuk Revolusi Permanen Edisi Bahasa Indonesia

Diposting oleh Dipa nusantara arsyan ideology

Pengantar Untuk Revolusi Permanen Edisi Bahasa Indonesia Print E-mail


By Alan Woods

Tuesday, 23 December 2008

Semua teori, program, dan kebijakan cepat atau lambat akan menemukan ekspresinya di dalam praktek. Teori Revolusi Permanen, yang merupakan salah satu perkembangan teori Marxis yang paling penting, sudah dikonfirmasikan secara positif oleh Revolusi Oktober 1917 di Rusia. Teori ini juga sudah dikonfirmasikan, secara negatif, di dalam banyak peristiwa semenjak itu. Contoh yang paling buruk dari ini adalah pembantaian satu setengah juta kaum komunis Indonesia pada tahun 1965.

Trotsky pertama kali mengembangkan teori Revolusi Permanen ini semenjak tahun 1904. Apa isi teori ini? Revolusi Permanen, walaupun menerima fakta bahwa tugas-tugas objektif yang dihadapi oleh kelas buruh Rusia adalah tugas-tugas revolusi borjuis demokratrik, menjelaskan bahwa bagaimana di sebuah negara yang terbelakang di dalam era imperialisme, kaum "borjuis nasional" tidak mampu memainkan peran yang progresif.

Alasannya adalah karena kaum borjuis yang lemah di kerajaan Tsar Rusia terikat dan tidak terpisahkan dengan tuan-tuan tanah feodal di satu pihak dan kekuatan modal imperialis di pihak yang lain, dan oleh karena itu mereka sama sekali tidak mampu melaksanakan tugas-tugas historis mereka (reformasi agraria, modernisasi masyarakat, demokrasi, masalah nasional, dll). Gagasan ini diuji setahun kemudian (pada tahun 1905) di dalam Revolusi Rusia yang pertama, ketika kaum borjuis liberal yang diwakili oleh Partai Kadet mengkhianati revolusi tersebut dan mendukung otokrasi Tsar.

Sudah ada beberapa contoh sebelumnya. Bahkan pada tahun 1848-49, selama periode revolusi borjuis demokratik di Eropa, Marx and Engels tanpa belas kasihan menelanjangi peran kaum borjuis yang penakut dan kontra-revolusioner, dan menekankan pentingnya bagi para buruh untuk mempertahankan keindependenan kelas mereka, bukan hanya dari kaum borjuis liberal tetapi juga dari kaum borjuis kecil demokrat yang plin-plan. Marx menekankan ini di dalam banyak artikel, seperti The Bourgeoisie and the Counter-Revolution (1848). Dan sebenarnya, Marx lah yang pertama kali menggagaskan ide Revolusi Permanen. Tetapi Trotskylah, yang mengambil Marx sebagai titik tolaknya, yang kemudian mengembangkan ide ini menjadi sebuah teori yang lengkap yang dapat diaplikasikan di situasi sekarang ini.

Leninisme dan Menshevisme

Sebelum Perang Dunia Pertama, ada perdebatan yang sengit di dalam tubuh Sosial Demokrasi Rusia mengenai perspektif Revolusi Rusia. Kaum Menshevik, yang merupakan sayap oportunis dari gerakan buruh Rusia, mengembangkan teori dua-tahap sebagai perspektif mereka untuk revolusi Rusia. Mereka berargumen bahwa, karena tugas-tugas revolusi ini adalah tugas-tugas revolusi borjuis demokratrik, maka kelas borjuis demokratik nasional-lah yang harus mengambil kepemimpinan revolusi ini. Mereka menunda revolusi sosialis ke hari depan yang jauh, dan menyerahkan kepemimpinan buruh kepada kaum liberal. Teori Revolusi Permanen adalah jawaban yang paling sempurna terhadap posisi reformis dan kolaborasi-kelas dari kubu Menshevik.

Apa posisi Lenin dalam hal ini? Dalam masalah politik yang utama (hubungan antara partai pekerja dengan kaum borjuis), posisi Lenin dekat dengan posisi Trotsky, dan dia berjuang melawan posisi kolaborasi-kelas Menshevik. Lenin setuju dengan Trotsky bahwa kaum liberal Rusia tidak mampu melaksanakan revolusi borjuis-demokratik, dan tugas ini hanya bisa dilaksanakan oleh kaum proletar yang beraliansi dengan kaum tani miskin.

Mengikuti jejak langkah Marx, yang telah menjelaskan bahwa "bagi kaum buruh, partai borjuis demokratik lebih berbahaya daripada kaum liberal sebelumnya", Lenin menjelaskan bahwa kaum borjuis Rusia, jauh dari menjadi sekutu kaum buruh, pasti akan berpihak pada konter revolusi. Dia menulis pada tahun 1905, "Kaum borjuis pasti akan berpihak pada konter revolusi, dan akan melawan rakyat segera setelah kepentingan-kepentingannya yang sempit dan egois terpenuhi, segera setelah mereka ‘mundur' dari demokrasi yang konsisten (dan mereka sudah mulai mengambil langkah mundur dari demokrasi yang konsisten)." (Lenin, Collected Works, vol. 9, hal.98)

Dalam pandangannya Lenin, kelas mana yang dapat memimpin revolusi borjuis-demokratik? "Yang tersisa adalah ‘rakyat', yakni kaum proletar dan tani. Kaum proletarlah satu-satunya kelas yang bisa diandalkan untuk berjalan hingga garis finis, karena mereka berjalan melampaui revolusi demokratik. Inilah mengapa kaum proletar berjuang di garis depan untuk pembentukan sebuah republik dan menolak saran yang bodoh dan tak bernilai untuk memikirkan mengenai kemungkinan mundurnya kaum borjuis." (Ibid.)

Di dalam semua pidato dan tulisan Lenin, peran konter-revolusioner dari kelas borjuis demokratik ditekankan oleh Lenin berulang kali. Akan tetapi, sampai pada tahun 1917, dia tidak percaya kalau kaum buruh Rusia akan dapat berkuasa sebelum revolusi sosialis di Eropa Barat - sebuah perspektif yang dipertahankan hanya oleh Trotsky sebelum tahun 1917 ketika ini diadopsi oleh Lenin di Tesis April-nya.

Revolusi Oktober

Kelas pekerja Rusia - seperti yang Trotsky prediksi pada tahun 1904 - meraih kekuasaan sebelum para pekerja Eropa. Mereka melaksanakan semua tugas-tugas revolusi borjuis-demokratik, dan dengan segera menasionalisasi industri dan menuju pelaksanaan tugas-tugas revolusi sosialis. Kaum borjuis secara terbuka memainkan sebuah peran konter-revolusioner, tetapi ini dipatahkan oleh kaum pekerja yang beraliansi dengan kaum tani miskin. Oleh karena itu, Revolusi Oktober secara megah mendemonstrasikan kebenaran dari teori Revolusi Permanen.

Setelah mengambil kekuasaan dan menyita para tuan tanah dan para kapitalis, kaum Bolshevik menyerukan sebuah seruan revolusioner kepada para buruh sedunia untuk mengikuti contoh mereka. Lenin tahu dengan sangat baik bahwa tanpa kemenangan revolusi di negara-negara kapitalis maju, terutama di Jerman, Revolusi Rusia tidak akan bisa selamat terisolasi, terutama di negara terbelakang seperti Rusia. Apa yang terjadi kemudian (baca: degenerasi Uni Soviet yang menjadi birokratis) menunjukkan bahwa perspektif ini adalah benar-benar tepat. Pembentukan International Ketiga (Komunis International), yakni partai dunia untuk revolusi sosialis, merupakan manifestasi konkrit dari perspectif tersebut.

Bila saja Komunis Internasional tetap memegang teguh posisi Lenin dan Trotsky, kemenangan revolusi sedunia sudah pasti akan terjamin. Sayangnya, tahun-tahun pertumbuhan Komintern terjadi seiring dengan konter revolusi Stalinis di Rusia, yang memiliki sebuah efek yang menghancurkan bagi Partai-Partai Komunis di seluruh dunia. Birokrasi Stalinis, setelah meraih kontrol di Uni Soviet, mengembangkan sebuah perspektfi yang sangat konservatif.

Teori bahwa sosialisme bisa dibangun di satu negara adalah sebuah penyelewengan terhadap ide-ide Marx dan Lenin. Pada awalnya, Stalin bahkan mengakui hal ini. Sampai pada bulan Februari 1924, di dalam tulisannya The Foundations of Leninisme, Stalin menyimpulkan pandangan Lenin mengenai pembangunan sosialisme:

"Penumbangan kekuasaan kaum borjuis dan pembentukan pemerintahan proletariat di satu negara belumlah menjadi kemenangan mutlak sosialisme. Tugas utama sosialisme - yakni pengorganisiran produksi secara sosialis - masih harus dilaksanakan. Dapatkan tugas ini dipenuhi, dapatkah kemenangan akhir sosialisme di satu negara tercapai, tanpa bantuan bersama dari kaum proletar di beberapa negara maju? Tidak, ini adalah hal yang mustahil. Untuk menumbangkan kaum borjuis, usaha satu negara adalah cukup - sejarah dari revolusi kita sudah menunjukkan ini. Unuk kemenangan akhir sosialisme, untuk pengorganisiran produksi secara sosialis, usaha dari satu negara terutama sebuah negara petani seperti Rusia, tidaklah cukup. Untuk ini, bantuan dari kaum proletar di beberapa negara maju dibutuhkan."

"Secara keseluruhan, inilah ciri karakteristik dari teori Leninis mengenai revolusi proletarian."

Tidak ada keraguan sama sekali kalau kalimat diatas mewakili ciri karakteristik dari teori Leninis mengenai revolusi proletarian, yang saat itu tidak dipertanyakan oleh siapapun. Akan tetapi, sebelum tahun 1924 berakhir, buku Stalin sudah dirubah, dan isi di atas diganti dengan isi yang benar-benar terbalik. Pada bulan November 1926, Stalin mengatakan:

"Untuk titik tolaknya, partai ini selalu mulai dengan gagasan bahwa kemenangan sosialisme di negara itu dan tugasnya dapat dicapai dengan kekuatan dari satu negara."

Ini merepresentasikan sebuah revisi yang fundamental terhadap ide Marxisme-Leninisme. Yang sebenarnya direfleksikan oleh ide ini adalah mentalitas kaum birokrat, yang tidak ingin lagi menghadapi badai dan stress revolusi, dan ingin segera memulai tugas "membangun sosialisme di Rusia". Dengan kata lain, mereka inign melindungi dan memperbesar hak-hak istimewa mereka dan tidak "membuang-buang" sumber daya negara untuk mengejar revolusi dunia. Di pihak yang lain, mereka takut kalau revolusi di negara-negara lain dapat berkembang dengan sehat dan mengancam dominasi mereka di Rusia, dan oleh karena itu mereka secara aktif mencoba mencegah revolusi di negara yang lain.

Daripada mengadopsi sebuah kebijakan revolusioner yang berdasarkan keindependenan kelas, seperti yang Lenin selalu anjurkan, mereka menganjurkan sebuah aliansi antara Partai Komunis dengan "kaum borjuis nasional yang progresif" (dan bila tidak ada kaum borjuis nasional yang progresif di lapangan, mereka siap untuk menciptakannya) untuk melaksanakan revolusi demokratik, dan setelah itu, di masa depan yang sangat jauh, ketika negara tersebut sudah mengembangkan sebuah sistem ekonomi kapitalis yang matang, barulah mereka berjuang untuk sosialisme. Kebijakan ini merupakan sebuah perpecahan total dari Leninisme dan kembali ke posisi Menshevisme yang tua dan sudah tercemar - yakni teori "dua-tahap".

Revolusi Permanen di masa kini

Kondisi politik sekarang bahkan lebih jelas dibandingkan dengan tahun 1917. Semenjak Perang Dunia Kedua, semua "negara ketiga" telah melalui sebuah periode gejolak sosial yang berkelanjutan. Pencapaian kemerdekaan secara formal, walaupun disambut oleh kaum Marxis, tidaklah menyelesaikan masalah-masalah bekas negara koloni ini. Selama mereka tetap berada di dalam basis kapitalisme, tidak ada jalan ke depan. Mereka tetap diperbudak oleh negara-negara kapitalis maju. Menggantikan penjajahan militer-birokratik yang langsung, kita sekarang memiliki dominasi tidak langsung melalui mekanisme pasar dunia dan perdagangan internasional.

Kaum borjuis nasional di negara-negara koloni ini memasuki pentas sejarah terlalu telat, ketika dunia sudah dibagi-bagi antara beberapa kekuatan imperialis. Mereka tidak mampu memainkan peran progresif apapun dan mereka lahir dibawah telapak kaki mantan tuan penjajahnya. Seperti halnya di kerajaan Tsar Rusia, kaum borjuis yang lemah dan korup di Asia, Amerika Latin, dan Afrika terlalu tergantung pada modal asing dan imperialisme untuk bisa membawa maju masyarakat mereka. Mereka terikat dengan seribu benang, bukan hanya pada modal asing, tetapi juga pada kelas tuan tanah, yang bersama-sama dengan mereka membentuk satu blok reaksioner yang menentang semua kemajuan.

Apapun perbedaan yang mungkin eksis antara elemen-elemen ini (kaum borjuis nasional, modal asing, dan tuan tanah), perbedaan tersebut adalah tidak signifikan dibandingkan dengan ketakutan mereka terhadap massa, ketakutan yang menyatukan mereka untuk melawan massa. Hanya kelas proletar, bekerja sama dengan kaum tani miskin dan kaum miskin kita, yang dapat menyelesaikan masalah-masalah sosial dengan merebut kekuasaan ke tangan mereka, menyita kaum imperialis dan kaum borjuis, dan memulai tugas merubah masyarakat secara sosialis.

Dibawah kondisi masa kini, tugas-tugas revolusi borjuis-demokratik di negara-negara terbelakang tidak dapat diselesaikan dengan basis relasi properti kapitalis. Kaum borjuis yang lemah dari negara-negara eks-koloni ini terlalu terikat dengan modal asing internasional untuk bisa melaksanakan revolusi nasional sampai ke garis akhir. Dan mereka juga tidak bisa berkompetisi dengan kompetitor dari negara industri maju untuk pasar dunia. Sebagai akibatnya, status ekonomi mereka memburuk terus menerus dibandingkan dengan negara-negara kapitalis maju.

Penghancuran ekonomi dari negara-negara terbelakang ini menciptakan kondisi krisis sosial yang akut dan permanen. Di satu pihak, masyarakat tani subsisten semakin terkikis berangsur-angsur, di pihak yang lain, kelas kapitalis tidak mampu menerapkan sistem ekonomi kapitalis di seluruh masyarakat. Bangkitnya negara polisi-militer di seluruh "dunia ketiga" hanyalah sebuah ekspresi dari ketidakmampuan kaum borjuis dari negara-negara koloni tersebut untuk menyelesaikan tugas-tugas revolusi demokratik. Hanya melalui kediktaturan revolusioner dari kelas proletar, beraliansi dengan kaum tani miskin, maka negara-negara terbelakang ini mampu mulai menyelesaikan masalah-masalah ekonomi dan sosial mereka.

Dengan berdiri di muka bangsa dan memimpin semua lapisan tertindas di dalam masyarakat (kaum borjuis kecil urban dan rural), kaum proletar dapat mengambil kekuasaan dan kemudian melaksanakan tugas-tugas revolusi borjuis-demokratik (terutama reformasi agraria dan penyatuan negara dan pembebasan negara dari dominasi asing).

Akan tetapi, setelah berkuasa, kelas proletar tidak akan berhenti disana dan akan mulai mengimplementasikan kebijakan-kebijakan sosialis dan mengekspropriasi kaum kapitalis. Dan karena tugas-tugas ini tidak dapat diselesaikan di satu negara saja, terutama di satu negara yang terbelakang, ini akan menjadi permulaan dari revolusi dunia. Oleh karena itu, revolusi ini "permanen" dalam dua hal: karena revolusi ini mulai dengan tugas-tugas borjuis-demokratik dan berlanjut ke tugas-tugas sosialis, dan karena revolusi ini mulai di satu negara dan berlanjut ke skala internasional.

Peran Partai-Partai Komunis

Teori dua-tahapnya Menshevik dan Stalinis telah memainkan satu peran yang kriminal di dalam perkembangan revolusi di negara-negara koloni. Dimana saja teori ini sudah diaplikasikan, ia telah menghasilkan malapetaka. Pada tahun 1920an, mengikuti teorinya Stalin "blok empat kelas", Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang masih muda saat itu dipaksa untuk bergabung dengan partai borjuis nasional Kuomintang, yang kemudian secara fisik menghancurkan PKT, serikat-serikat buruh, dan soviet-soviet tani selama Revolusi Cina 1925-27. Alasan mengapa Revolusi Cina kedua (tahun 1949) mengambil bentuk perang tani dimana kelas buruh Cina berperan pasif adalah karena hancurnya kelas proletar akibat kebijakan-kebijakan Stalin, yang Trotsky gambarkan sebagai "sebuah karikatur Menshevisme yang buruk."

Di Irak pada tahun 1950an dan 1960an, Partai-Partai Komunis disana adalah kekuatan besar yang mampu mengorganisir demonstrasi satu juta orang di Baghdad. Saat itu, mereka bisa saja dengan mudah mengambil kekuasaan. Tetapi, dari pada mengambil sebuah kebijakan kelas yang independen dan memimpin buruh dan tani untuk merebut kekuasaan, mereka mencari aliansi dengan kaum borjuis "progresif" dan seksi-seksi tentara yang "progresif". Tentara "progresif" ini, setelah naik ke tampuk kekuasaan di atas punggung Partai-Partai Komunis Irak, kemudian menghancurkan mereka dengan membunuh dan memenjara anggota-anggota dan pimpinan-pimpinan mereka. Rakyat Irak membayar sangat mahal dengan dikuasai oleh diktatur Saddam Hussein, dan horor peperangan dan okupasi asing yang berlanjut dari sana.

Di Sudan, proses yang sama terjadi bukan sekali saja, tetapi dua kali. Pada tahun 1967, Partai Komunis Sudan (PKS) mampu memanggil demonstrasi 2 juta orang di Khartoum. Tetapi para pemimpin PKS mengadopsi kebijakan "Aliansi Patriot" dengan kaum borjuis "progresif". Apa hasil dari aliansi ini? Hasilnya adalah kediktaturan Nimeiri, pembantaian PKS dan kemenangan kaum reaksioner di Sudan dengan konsekuensi-konsekuensi yang tragis. Akan tetapi, semua malapetaka ini kecil dibandingkan dengan pembantaian para Komunis di Indonesia pada tahun 1965.

Indonesia

Indonesia bukanlah pengecualian. Walaupun memiliki potensial produksi yang besar, Indonesia tetap terpuruk miskin dan terbelakang. Pada satu ketika, Indonesia adalah daerah surplus-beras; pada tahun 1965, Indonesia harus mengimpor 150 ribu ton beras setiap tahunnya. Ekonomi Indonesia terpuruk dengan hutang besar kepada komunitas bank internasional, terutama bank AS. Setiap tahun, defisit anggaran meningkat dua kali lipat. Jumlah defisit pada tahun 1965 adalah sekitar 1000 milyar rupiah. Mata uang Rupiah telah jatuh menjadi 1/100 dari harga legalnya sebagai akibat dari inflasi kronik, yang 6 tahun sebelum kudeta 1965 telah membuat ongkos kehidupan naik 2 ribu persen.

Walaupun ekonomi sedang runtuh, Negara Indonesia saat itu membelanjakan 75% anggaran untuk persenjataan (1 milyar dollar AS setiap tahun). Dengan ekonomi yang meluncur ke bawah dengan cepat, Sukarno terpaksa menasionalisasi semakin banyak perusahaan-perusahaan asing. Untuk melakukan ini, dia harus bersandar pada dukungan Partai Komunis Indonesia - sebuah aksi yang tidak luput dari perhatian Washington.

Rejim Bonapartis dari Sukarno dipenuhi dengan korupsi. Di tengah-tengah kemiskinan massal, upah rendah dan masalah perumahan yang besar, Sukarno dan elit-elitnya hidup seperti raja. Di bawah arahan Sukarno, sejumlah uang yang besar diboroskan untuk membangun gedung-gedung mewah seperti Hotel Indonesia di Jakarta, dimana, mengutip Sunday Times, "Tiga juta rakyat, yang kebanyakan miskin, tinggal ... di rumah-rumah kumuh ... yang kebanyakan akan runtuh". Sukarno tinggal di sebuah vila putih - yang dulunya adalah tempat tinggal gubernur Belanda - dan dikelilingi dengan perabotan-perabotan mewah dan karya-karya seni yang mahal. "Tiga ruang utama yang megah tersebut tampak seperti museum dalam kebesarannya dan aurannya. Setiap ruang itu diperaboti dengan megah dan dikarpeti. Setiap ruang digantungi dengan sebagian dari koleksi lukisan megahnya Sukarno."

Kemiskinan dan kesukaran rakyat mengakibatkan tumbuhnya PKI secara pesat. Tidak ada gerakan buruh di "Negara Ketiga" yang tumbuh sepesat Indonesia. PKI, yang secara praktikal hilang keberadaannya setelah kudeta yang gagal pada tahun 1948, menjadi Partai Komunis terbesar ketiga di dunia - hanya Partai Komunis Tiongkok dan Uni Soviet yang lebih besar.

Kebijakan Menshevik PKI

Jumlah anggota PKI saat itu adalah 3 juta. Ia memiliki dukungan 10 juta anggota serikat buruh dan kaum tani yang terorganisir. Yang terlebih penting, PKI mengklaim dukungan 40 persen dari tentara Indonesia. Partai Bolshevik pada tahun 1917 tidak memiliki basis yang sekuat itu. Pada bulan Februari, Bolshevik hanya memiliki 8000 anggota di sebuah negara besar dengan 150 juta rakyat. Namun hanya dalam 9 bulan, Lenin dan Trotsky memimpin Partai Bolshevik untuk menaklukkan kekuasaan. Secara kontras, PKI dengan kekuatannya yang besar, memimpin kaum buruh dan tani Indonesia menuju kekalahan yang penuh darah. Mengapa?

Di dalam perpecahan Sino-Soviet, PKI berpihak dengan Peking, dan mempertahankan hubungan yang dekat dengan kaum Stalinis Cina. Kita mungkin berpikir bahwa ini adalah sebuah kombinasi yang revolusioner. Tetapi ini salah. Kebijakan PKI adalah kebijakan kolaborasi kelas. Kepemimpinan PKI mengekori kepemimpinan sang borjuis Bonapartis yang "progresif", Sukarno. Setelah 1948, semua sisa-sisa ideologi revolusioner secara sistematis dihapus dari program PKI. Program dan Konstitusi PKI tahun 1962 menggarisbawahi tugas partai untuk membentuk "negara rakyat demokratik". Ini tidak ada kesamaannya dengan sosialisme.

"Negara rakyat demokratik" ini akan merupakan sebuah "demokrasi tipe baru", yang bukan berdasarkan kelas buruh, tetapi berdasarkan sebuah blok kaum buruh dan tani dengan bermacam-macam koleksi "sekutu", termasuk " kaum borjuis kecil perkotaan, kaum intelektual, kaum borjuis nasional (!), elemen-elemen aristokrat yang maju (!!) dan elemen-elemen patriotik secara umum (!!!)" Dari bentuk ini, sangatlah sulit untuk meraih kesimpulan mengenai karakter kelas dari "negara rakyat demokratik" karena bentuk tersebut diatas hanyalah daftar semua kelas dan strata di Indonesia. Ini berarti bahwa program PKI dengan orientasi Peking yang "revolusioner" hanyalah mempertahankan status quo.

Daripada kediktaturan proletar, PKI merujuk pada "otoritas" dari "rakyat" - sebuah formula yang tidak ada artinya. Pada tahun 1955, PKI mengadvokasikan sebuah koalisi nasional, dan menawarkan untuk menumpulkan program mereka yang sudah tumpul menjadi sebuah daftar tujuan-tujuan yang sepenuhnya non-komunis. Ahli teori utama dari PKI, yakni Aidit, menganjurkan teori "dua-tahap"nya Menshevik-Stalinis, yang menunda revolusi sosialis ke masa depan yang jauh:

"Pada saat kita menyelesaikan tahapan pertama dari revolusi kita yang sekarang sedang dalam progres, kita dapat melakukan negosiasi bersahabat dengan elemen-elemen progresif lainnya di dalam masyarakat kita, dan tanpa perjuangan bersenjata kita akan memimpin bangsa ini menuju revolusi sosialis. Lagipula, kaum kapitalis nasional di negara kita adalah lemah dan tak terorganisir. Sekarang, di dalam revolusi demokratik nasional kita, kita berpihak dengan mereka dan berjuang di dalam perjuangan bersama untuk menendang keluar dominasi modal asing dari tanah air ini".

Argumen Aidit penuh kontradiksi. Bila kaum borjuis nasional adalah lemah dan tak terorganisir, maka lebih banyak alasan untuk menyapu mereka ke samping dan membentuk pemerintahan buruh dan tani. Kenyataannya, seperti yang Lenin garisbawahi ratusan kali, justru karena kelemahan kaum borjuis nasional yang membuat mereka menjadi batu halangan yang reaksioner di dalam jalan menuju revolusi demokratik di negara-negara terbelakang. Mereka (baca kaum borjuis nasional) meragukan kemampuan mereka untuk mengontrol kekuatan-kekuatan yang dilepaskan dari gerakan nasional demokratik itu sendiri, mereka menjadi ambigu, dan akhirnya mereka terdorong ke pihak reaksioner karena takut terhadap kelas pekerja mereka sendiri. Untuk alasan ini, sangatlah reaksioner bila kita mencoba memisahkan secara mekanis fase-fase revolusi demokratik dan revolusi sosialis di negara-negara terbelakang. Pilihannya adalah: revolusi demokratik "bergerak menuju" kediktaturan proletariat, atau revolusi demokratik tersebut hancur di bawah palu reaksi.

Apa yang disebut posisi "Leninis" dari Aidit dan pemimpin-pemimpin PKI lainnya adalah identik dengan posisi kaum Menshevik yang dilawan dengan gigih oleh Lenin sampai pada tahun 1917. Bagi mereka, kediktaturan proletariat yang revolusioner ditunda sampai masa depan yang jauh (dan oleh karena itu aman) - 50, 100, bahkan 300 tahun kemudian. Pertama-tama, kita selesaikan dahulu "tahapan pertama", lalu setelah ini "tercapai sepenuhnya", kita "lakukan negosiasi bersahabat" dengan mereka yang mungkin tertarik dengan "tahapan kedua". Akan tetapi, sejarah tidaklah terjadi seperti itu.

"Gerakan 30 September"

Puluhan tahun kebijakan dua-tahap Menshevik yang diadopsi oleh kepemimpinan PKI akhirnya menghancurkan partai tersebut dan bersama-sama dengan itu seluruh gerakan buruh dan tani di Indonesia dengan satu sapuan. Ini menyebabkan kehancuran gerakan Komunis di Indonesia - yang saat itu adalah Partai Komunis ketiga terbesar setelah Uni Soviet dan Cina - dan sebuah pergeseran radikal di dalam politik Indonesia dan seluruh Asia Tenggara. Peristiwa yang memicu malapetaka ini adalah Gerakan 30 September.

Washington bersihkeras untuk menumbangkan Sukarno dan menghancurkan PKI. Mereka mengganggap prospek sebuah pemerintahan Komunis di Indonesia sebagai hari kiamat. Pada sebuah pidato tahun 1965, Richard Nixon membenarkan pemboman Vietnam Utara sebagai satu cara untuk melindungi "kekayaan mineral yang besar" di Indonesia. Seperti yang ditulis oleh ahli sejarah John Rossa di dalam bukunya Pretext for Mass Murder, yang merupakan buku sejarah yang terbaru mengenai Gerakan 30 September:

"Tentara yang mulai tiba di Vietnam pada bulan Maret 1965 tidak akan berguna bila kaum Komunis menang di sebuah negara yang lebih besar dan strategis. Kemenangan PKI di Indonesia akan membuat intervensi di Vietnam sia-sia ... McGeorge Bundy, seorang penasehat keamanan nasional untuk Presiden Kennedy dan Johnson, juga telah menekankan bahwa Vietnam sudah bukan lagi kepentingan yang vital ‘setelah revolusi anti-komunis di Indonesia'."

Kebijakan-kebijakan Sukarno melawan perusahaan-perusahaan asing, kebijakan Non-Bloknya (yang diperagakan di Konferensi Asia-Afrika 1955), pengutukannya terhadap imperialisme Barat, dan ketergantungannya pada PKI yang semakin meningkat, semua ini meyakinkan Pemerintahan AS untuk membuat aliansi dekat dengan perwira-perwira reaksioner seperti Jendral Nasution yang sangat anti-komunis. Dari tahun 1958 hingga 1965, Amerika melatih, mendanai, menasehati, dan mensuplai seksi dari tentara Indonesia yang anti-komunis.

Akan tetapi, seperti yang dipaparkan di dalam dokumen-dokumen rahasia pemerintahan AS yang telah dibuat publik, para jendral sayap kanan ini sadar kalau mereka tidak akan dapat melakukan kudeta model lama untuk melawan Sukaro dan PKI - karena Sukarno masih terlalu populer dan PKI memiliki dukungan massa. Usaha-usaha sebelumnya untuk membelah Indonesia ke dalam negara-negara yang lebih kecil ("zona komunis" dan "zona non-komunis') - seperti yang terjadi di Korea dan Vietnam - gagal total. Usaha-usaha yang gagal ini justru memperkuat Sukarno dan PKI karena garis anti-imperialisme mereka terbukti benar di mata rakyat.

Untuk alasan-alasan ini, sebuah kudeta terbuka tidak dapat dilakukan di Indonesia. Supaya kudeta sayap-kanan dapat berhasil, ia harus disamarkan sebagai sebuah usaha untuk menyelamatkan Presiden Sukarno. Pada tahun 1959, Dewan Keamanan Nasional AS sudah mengakui bahwa serangan terbuka terhadap PKI harus "dibenarkan secara politik untuk kepentingan Indonesia sendiri" dan PKI harus didorong "ke posisi dimana mereka menentang secara terbuka Pemerintahan Indonesia [Sukarno]." Howard Jones, Duta Besar AS di Jakarta (1958-1965), mengatakan di dalam sebuah pertemuan tertutup di Filipin pada bulan Maret 1965, "Tentu saja dari sudut pandang kita, sebuah usaha kudeta yang gagal dari PKI adalah sebuah perkembangan yang paling efektif untuk memulai sebuah pemutaran balik tren politik di Indonesia." Triknya adalah untuk memprovokasi PKI untuk mengambil aksi yang terburu-buru yang dapat digunakan sebagai alasan untuk menghancurkannya.

Perangkap ini diluncurkan dan pemimpin-pemimpin PKI jatuh ke dalam perangkap ini. Para pemimpin PKI, daripada memobilisasi massa untuk melawan kaum reaksioner tersebut, justru berusaha meluncurkan sebuah kudeta istana dengan membunuh para jendral pemimpin sayap-kanan. Saya menulis sebuah artikel mengenai peristiwa ini, Perspectives, pada bulan Oktober 1965, beberapa minggu setelah kemenangan konter-revolusi. Di dalam artikel ini saya menjelaskan bahwa bukannya membeberkan rencana-rencana kaum sayap kanan, bukannya memobilisasi massa untuk mogok umum dan menyerukan kepada pendukungnya di dalam angkatan bersenjata untuk melucuti para perwira mereka dan bergabung dengan buruh untuk menumbangkan rejim yang busuk ini, kepemimpinan PKI justru berkonspirasi untuk membunuh para jendral reaksioner tersebut - sebuah konspirasi yang sangat rahasia sehingga selain Aidit tak seorangpun dari anggota Komite Pusat yang mengetahui rencana ini.

Enam jendral dibunuh, tetapi Nasution selamat. Bersama-sama dengan Suharto dan perwira sayap kanan lainnya, mereka memanggil pasukan mereka, melepaskan propaganda media anti-komunis yang luar biasa, dan memobilisasi demonstrasi mahasiswa (yang sebagian didanai oleh duta besar AS). Revolusi istana ini rubuh. Kebijakan-kebijakan keliru dari Aidit dan kepemimpinan PKI menaruh nyawa tiga juta buruh dan tani komunis di tangan kaum reaksioner. Koran Daily Telegraph menganalisa situasi ini di dalam editorialnya pada tanggal 12 Oktober, yang berjudul The Civil War in Indonesia:

"Sangatlah jelas dari kejadian-kejadian sepuluh hari terakhir di Indonesia bahwa ini bukanlah sebuah kudeta istana seperti sebelumnya yang mengguncang Republik Sukarno, ini adalah sebuah perang sipil yang menyebar. Tanah konfontrasi sekarang mengkonfrontasi dirinya sendiri. Tiga kepala dari sang naga ini, Muslim, Nasionalis, dan Komunis, saling menggigit satu sama lain, dan pertikaian ini telah menyebar dari Jawa ke Sumatra. Persaingan ketiga kekuatan ini yang telah ditangani oleh Dr. Sukarno sekarang meledak. Bila angkatan bersenjata mencurigai sebuah kudeta Komunis, mereka jelas-jelas terkejut dengan kekejamannya dan mereka terkacaukan dengan terbunuhnya enam jendral mereka. Sekarang jelas kalau Dr. Sukarno ada di bawah perlindungan angkatan bersenjata, dan dia telah mentoleransi kampanye melawan gerilya komunis dan akhirnya menanggalkan kepura-puraan kalau Nasakom atau Front Persatuan dia masih eksis."

Perang sipil ini dimainkan oleh satu pihak saja. Bukannya meluncurkan ofensif yang agresif melawan kaum reaksioner - yang pada jam-jam terakhir ini dapat menyelamatkan Partai Komunis - kepemimpinan PKI justru mengandalkan aliansi mereka dengan "borjuis progresif" Sukarno. Saat kaum komunis berjuang melawan massa reaksioner, PKI tetap diwakili di kabinet Sukarno, mendukung demagog Sukarno mengenai "kesatuan nasional", kestabilan, dll. Sampai akhirnya, mereka tetap menempel pada Sukarno, tetapi Sukarno dan kabinetnya sudah impoten.

Puluhan ribu anggota PKI yang jujur dan militan, yang kebingungan karena tidak adanya kepemimpinan dari partai mereka, menyerahkan diri mereka ke kaum reaksioner, karena mereka percaya - seperti yang dikatakan oleh pemimpin mereka - bahwa Sukarno akan melindungi mereka. Akan tetapi, sang Bonapartis Sukarno sudah menjadi hanya sebuah simbol dan tidak berkuasa lagi. Dengan begini, puluhan ribu anggota PKI sesungguhnya menyerahkan diri mereka ke massa reaksioner seperti domba yang pergi menuju tempat pemotongan hewan.

Pemerintahan Indonesia tergantung di udara. Perjuangan politik yang sesungguhnya telah pindah ke jalanan. Nasution memobilisasi kekuatan Muslim reaksioner. Markas PKI di Jakarta di serbu dan dibakar oleh massa ribuan pemuda, yang berteriak "Gantung Aidit". Massa menyeruak di jalanan, menempel poster-poster bertulisan "Hancurkan Kaum Komunis". Massa di depan duta besar Amerika berteriak "Hidup Amerika". Sebuah demonstrasi 500 ribu orang menuntut aksi terhadap semua yang berpartisipasi di Gerakan 30 September. Hasil akhirnya adalah pembantaian setidaknya satu setengah juta kaum Komunis.

CIA memainkan peran yang aktif di dalam pembunuhan massal ini. Yang disebut-sebut sebagai pahlawan demokrasi di Washington, London, dan Paris dengan segera mengakui rejim pembunuh ini. Peran kriminal dari imperialisme sangatlah jelas. Tetapi para imperialis tidak akan dapat meraih kemenangan yang semudah ini bila bukan karena kebijakan-kebijakan kepemimpinan PKI yang membawa malapetaka. Ketika kekuasaan negara secara terbuka ditantang di dalam sebuah perang sipil, "moderasi" dan "jalan tengah" menghilang seperti uap air. Tetapi kepemimpinan PKI bahkan tidak bisa menyerukan mogok umum. Mereka bertingkah seperti para pemimpin Sosial Demokrat dan Stalinis di Jerman pada tahun 1933 - dan mereka membayarnya dengan harga yang sama.

Dimana kelas pekerja dikalahkan tanpa perlawanan sama sekali, ini menyebabkan runtuhnya moral yang sangat besar dan melumpuhkan rakyat untuk waktu yang sangat lama. Kekalahan 1965 mengusung sebuah periode militer-reaksioner yang kejam. Ini juga menyebabkan runtuhnya moral dari kaum buruh dan tani di Malaysia. Tidak mengejutkan kalau koran Daily Telegraph mengekspresikan dengan jelas kepuasan mereka terhadap pesta-pora konter-revolusi di Indonesia. Sebagai penutup, pengalaman Indonesia mengekspos kepalsuan frase-frase "revolusioner" dari kaum Stalinis Cina. Satu-satunya respon dari kaum birokrasi Cina terhadap pergolakan di Indonesia adalah pesan "salam hangat" kepada Sukarno ketika dia akhirnya keluar dari persembunyiannya.

Pelajaran dari Kekalahan

Masalah ketepatan sebuah teori atau masalah teori Menshevik-Stalinis bukanlah masalah akademik tetapi merupakan masalah yang praktikal. Pengalaman dari kebijakan-kebijakan Stalinis di dalam berbagai revolusi telah secara pasti membuktikan karakter konter-revolusioner mereka. Selama puluhan tahun, kelas pekerja negara-negara kolonial atau eks-kolonial telah membuktikan keberanian dan potensial revolusioner mereka. Berkali-kali mereka telah bergerak untuk melaksanakan transformasi revolusioner di negara mereka.

Di Irak, Sudan, Iran, Chile, Argentina, India, Pakistan, dan Indonesia, kaum pekerja telah menunjukkan bahwa mereka ingin menjadi tuan dari tanah air mereka. Bila mereka gagal, ini bukan karena mereka tidak bisa berhasil, tetapi ini karena mereka kekuarangan sebuah syarat penting untuk merebut kekuasaan: yakni sebuah kepemimpinan yang benar-benar revolusioner. Setiap kali, mereka terbentur dengan sebuah tembok karena partai dan pemimpin yang mereka percayai untuk memimpin mereka menuju transformasi sosialis justru menjadi halangan yang besar. Napoleon pernah berkata: "pasukan yang kalah belajar dengan baik". Bagi kaum Marxis, pelajaran dari kekalahan lebih penting daripada pelajaran dari kemenangan.

Para buruh bisa mempelajari kesalahan-kesalahan mereka, tetapi hanya bila pengalaman-pengalaman ini dijelaskan dan dianalisa dengan sabar oleh kaum pelopor revolusioner. Kaum Marxis revolusioner memiliki sebuah tugas untuk menjelaskan pelajaran-pelajaran dari kejadian 1965 di Indonesia kepada gerakan buruh. Apa perbedaan utama antara Rusia pada tahun 1917 dan Indonesia pada tahun 1965? Perbedaan utamanya bukanlah di kondisi-kondisi objektif. Kondisi objektif di Indonesia pada tahun 1964-65 sangatlah mendukung. Rakyat Indonesia telah mengalahkan imperialisme Belanda. Kaum komunis memiliki dukungan mayoritas kelas buruh dan tani. Tetapi sebuah kebijakan dan perspektif yang keliru cukup untuk menghancurkan revolusi ini. Bila Revolusi Oktober membuktikan ketepatan teori Revolusi Permanen secara positif, maka malapetaka Indonesia membuktikan ketepatan teori Revolusi Permanen secara negatif dan secara sangat brutal.

Kesimpulannya sangat jelas. Tanpa sebuah partai revolusioner, potensial dari kaum proletar tetaplah akan menjadi potensial. Hubungan antara kelas dan partai adalah serupa dengan hubungan antara uap dan mesin piston. Tetapi, keberadaan partai tidaklah cukup untuk memastikan kesuksesan. Partai ini harus dipimpin oleh pria dan wanita yang dipersenjatai dengan pemahaman akan tugas-tugas revolusi, taktik, strategi, dan perspektif, dan bukan hanya tugas-tugas nasional tetapi juga internasional.

Untuk meraih kekuasaan, tidaklah cukup kalau kaum pekerja siap untuk bertempur. Bila cukup hanya dengan kesiapan untuk bertempur, maka kelas pekerja sudah meraih kekuasaan di semua negara tersebut dari dulu. Ini akan sangat mudah dicapai karena mereka ada di dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan kaum pekerja Rusia pada tahun 1917. Tetapi mereka tidak meraih kekuasaan. Mengapa tidak? Karena kelas pekerja membutuhkan sebuah partai dan sebuah kepemimpinan. Untuk mengabaikan kenyataan fundamental ini adalah anarkisme yang kekanak-kanakan. Marx menjelaskan semenjak dulu bahwa tanpa organisasi, kelas pekerja hanyalah bahan mentah untuk eksploitasi. Walaupun berjumlah banyak dan memainkan peran kunci di dalam produksi, kaum proletar tidak akan mampu merubah masyarakat kecuali bila ia menjadi sebuah kelas di dalam dan untuk dirinya sendiri ("in-and-for itself") dengan kesadaran, perspektif, dan pemahaman yang dibutuhkan.

Untuk menunggu sampai kelas proletar secara keseluruhan memperoleh pemahaman yang dibutuhkan untuk merebut kekuasaan dan merubah masyarakat adalah sebuah proposisi yang utopis, yang pada intinya berarti menunda revolusi untuk selamanya. Kita perlu mengorganisir lapisan kelas proletar yang paling maju, mendidik para kader, dan memenuhi mereka dengan perspektif revolusioner, bukan hanya dalam skala nasional tetapi juga dalam skala internasional, untuk mengintegrasikan mereka ke dalam rakyat di semua level, dan untuk secara sabar mempersiapkan diri untuk menghadapi momen ketika perjuangan-perjuangan parsial menjadi sebuah ofensif revolusioner yang umum.

Krisis ekonomi global sekarang ini adalah sebuah gejala dari sistem kapitalisme dunia yang telah kehabisan potensial untuk maju. Dan ini hanyalah permulaan dari sebuah proses revolusioner yang akan bergulir di dalam tahun-tahun ke depan. Bila sebuah partai Leninis yang sejati eksis, ini akan berakhir di sebuah revolusi proletar yang klasik. Walaupun menderita kekalahan dan kemunduran, kaum pekerja dan tani Indonesia pasti akan mengambil jalan perjuangan lagi dan lagi. Penggulingan Suharto merupakan indikasi dari kenyataan ini. Satu persatu negara Asia, para buruh, tani, dan pelajar akan mengambil jalan perjuangan karena tidak ada lagi alternatif.

Revolusi Indonesia - yang hanya bisa mengambil karakter sosialis - sekarang ada di agenda lagi. Sebuah revolusi di Indonesia akan menggoncang seluruh Asia dan memiliki pengaruh yang besar terhadap kaum pekerja dan tani di Malaysia, Filipin, India, Pakistan, Bangladesh dan Sri Lanka. Pembentukan federasi sosialis Indonesia, Malaysia, dan Filipin akan menyelesaikan masalah-masalah nasional secara adil. Potensial produksi yang besar dari negara-negara ini hanya bisa direalisasikan dengan sebuah ekonomi sosialis terencana, yang akan menciptakan kondisi untuk merubah hidup rakyat banyak.

Syaratnya adalah bagi rakyat pekerja untuk mengambil kekuasaan ke tangan mereka. Kaum pekerja dan tani Indonesia memiliki sejarah perjuangan yang luar biasa. Generasi kaum pekerja dan tani yang baru akan menemukan kembali tradisi-tradisi ini, mempersenjatai diri mereka dengan ide-ide Marxisme dan memimpin massa ke kemenangan akhir. Mereka akan membalas dendam martir-martir mereka yang terbunuh, menggulingkan penindas mereka, dan membangun kembali masyarakat ini secara sosialis.

London, 17 Desember 2008

Serangan terhadap hak-hak wanita.

Sejak berlakunya krisis ekonomi berkepanjangan 1970-an pemerintah-pemerintah di seluruh dunia telah mencoba untuk memotong upah dan pekerjaan, pelayanan sosial, dan kesejahteraan publik. Sementara subsidi dan potongan pajak bagi bisnis-bisnis besar terus meningkat .

Hak-hak yang telah dimenagkan oleh pekerja, kelompok-kelompok perempuan, dan pendatang juga diserang. Untuk membenarkan serangan pada pelayanan anak publik, hak perempuan untuk pekerjaan dan pendidikan yang sama , dan pelayanan perempuan, arahan ideologis telah diakselerasikan oleh pemerintah-pemerintah itu untuk mendorong wanita kembali pada peranan istri, ibu dan buruh yang tak dibayar.

Saat ini banyak anak muda tertarik dengan hak-hak perempuan dan ide-ide feminis. Tetapi gerakan yang terorganisisr masih lemah. Kepentingan saja ternyata tak cukup untuk menghentikan agenda anti perempuan . selain beberapa kampanye yang bagus tak ada lagi kampanya yang besar sekarang.

Tanpa melanjutkan aksi ini, kemenagan yang telah diraih akan hilang kembali. Saat ini gerakan berada dalam titik terendah sejak 1970-an, dan kita punya tugas mendesak untuk membangun kembali gerakan itu. Untungnya kita masih punya banyak kemenangan yang akan mempermudah perjuangan itu.

Gerakan itu secara masif menaikkan pengharapan dan kesadaran tentang hak-hak wanita- hal ini masih bisa dicatat pada tingkatan tinggi kesadaran feminis dasar hari ini, meskipun kesadaran ini telah tidur. Kita masih mempunyai banyk reformasi konkrit: hak formal untuk upah yang sama, kesempatan bekerja yang sama, kebebasan dari diskriminasi. Sangat sulit bahkan bagi pemerintahan liberal untuk secara terbuka mengambilnya kembali sekarnag, meskipun jalan juga terbuka bagi mereka untuk melakukannya.

FEMINISME LIBERAL.

Selama tahun 1980-an banyak kepemimpinan gerakan disuap dengan kedudukan-dedudukan dalam birokrasi pemerintah dan akademia (banyak diantaranya baru-dibuat untuk menempati sudut-sudut feminis) yang sering terikat degan pemerintah dinegara-negara maju.

Reformasi feminis yang dipaksakan dari sistem oleh gerakan massa digunakan oleh femisnis-feminis ini untuk menyimpangkan kritisme dari dukungan kuat kepada partai-partai berkuasa . Hal ini menimbulkan sejumlah kebijakan minus mengenai wanita, seperti bayaran untuk pendidikan yang lebih tinggi, pemotongan pekerjan dan serangan pada hak berserikat; menolak untuk mengambil posisi partai dalam hak aborsi; Banyak aktivis feminis dari kelompok yang militan dalam awal gerakan ,menjadi terjebak dalam kerja kesejahteraan yang dibiayai oelh pemerintah dan sering secara politik berkompromi karena ketakutan dananya ditarik.

Keindependenan politik gerakan pembebasan perempuan diragukan. Kaum Femokrat (feminis demokrat) dan politik perempuan secara aktif mendemobolisasi kampanye mengancam kekuatan elektoral partai yang berkuasa (sumber dana mereka dan jalan karir mereka). Dan metode lobi dan perspektif reformis disemangati oleh feminis-feminis ini, yang bekerja untuk mencegah segala pukulan radikal dari buruh, menjadi lebih dan lebih dominan dalam gerakan.

Proses yang sama dalam pemilihan anggota diterapkan pada serikat buruh tahun 1980-an melalui persetujuan harga dan pendapatan. Hal ini kemudian memperlemah gerakan pembebasan perempuan sebagaimana serikat gagal memobilisasi melawan serangan yang lebih luas terhadap persoalan-persoalan seperti hak buruh dan derma.

Hari ini, sementara banyak perempuan masih berbicara tentang hak yang sama dan perlunya organisasi feminis, mereka telah meninggalkan proyek pembangunan gerakan massa pembebasan perempuan yang bertujuan dan mempunyai kekuatan untuk menaikkan kondisi semua perempuan. Dalam praktisnya, mereka mendukung kampanya sepanjang itu tak dapat menentang kepentingan mereka sendiri yang mengalir dari posisi istimewa yang sekarang mereka pegang.

Feminis liberal mempunyai akses yang jauh lebih besar terhadap uang, media dan pembuat keputusan kebijakan publik daripada kelas pekerja perempuan atau orang kiri. Dan keberadaan media massa dan partai politik hanya terlalu bergelora untuk mempromosikan transformasi feminisme dari basis yang luas, gerakan militan melawan penindasan perempuan dan untuk transformasi kolektif masyarakat, kedalam suatu fokus pada hak-hak individu, pencapaian individu dan solusi individu yang sedikit demi sedikit tanpa menantang struktur fundamental atau elit penguasa, akan membuat sedikit perempuan meningkatkan peran mereka dalam mereformasi status quo.

Satu contoh dari perspektif ini adalah buku kedua Naomi Wolf Fire with Fire dimana ia menunjukkan pentingnya "feminisme kekuatan" pada tahun 1990-an. Perempuan sudah "kuat", katanya, karena mereka memegang lebih dari 50 % suara di AS, karena "sekarang ada 2, 339 juta perempuan AS dengan pendapatan pertahun lebih dari $50.000" dan karena mereka menempati 80% pengeluaran konsumen. Kita hanya perlu menghentikan buku Wolf langsung pada keistimewaan yang seperti dirinya sendiri akan diterima kedalam kemapanan pria, bahkan mungkin ke dalam kelas berkuasa sejati, bila mereka memakai "femisisme " mereka .

TANTANGAN TERHADAP FEMINIS LEBERAL

Sejak tahun 1980-an tak ada gerakan terorganisir yang cukup kuat untuk menantang feminisme liberal. Seluruh kampanye besar sebenarnya telah disubordinasikan pada perwakilan untu melobi partai buruh sementara yang lainnya disuruh pulang dan menulis surat.

Pawai dan reli pada hari Perempuan seDunia setiap tahun hanyalah satu-satunya mobilisasi tahunan besar dengan kerangka kerj yang cukup besar untuk merepon setiap serangan terhadap hak-hak perempuan dan menaikkan sejumlah tuntutan.

Tetapi even ini gagal untuk menggambarkan orang pada aksi yang sedang berlangsung. Mereka yang selalu mencoba untuk membangun gerakan bagi pembebasan semua perempuan menemui tantangan besar dari mengambil kepemimpinan gerakan dari feminis liberal.

Perspektif feminis liberal semakin tak berguna dalam menanggapi serangan yang terakselerasi terhadap wanita oleh pemerintah.

Tetapi suatu gerakan yang lemah, terdominasi untuk menantang sernag ideologi dari kelas pengiuasa telah menghasilkan dalam suatu kemurtadan kesadaran feminis umum. Kebutuhan menjadi feminis secara keseluruhan diuji lebih luas, dan iede-ide sexis lebih bisa diterima. Sementara pengakuan ketidaksetaraan perempuamasih cukup tinggi dalam masyarakat, suatu pengertian mengapa ini persoalan dan bagaimana melawannya.

Hal ini membuat banyak perdebatan baru muncul dalam putaran feminis terutama penting dan mendesak. Kita harus mengambil keuntungan dari perjuangan yang masih kita miliki, untuk mendorongnya. Ada diskusi besar diperlukan tentang bagaimana cara melakukannya.

Trend Feminis saat Ini

Diantara mereka yang menolak liberal feminisme sebagai titik akhir untuk perubahan saat ini ada tiga trend besar: Feminisme Marxis, Feminisme Post Modernis dan Feminisme Radikal. Kami, Resistence adalah bagian dari trend yang pertama dan percaya bahwa yang dua lainnya adalah kontraproduktif pada tujuan untuk mendirikan kembali gerakan yang diperlukan untuk mencapai pembebasan perempuan.

Banyak feminis akan mengedepankan suatu campuran pillihan dari pendekatan feminis. Dan banyk feminis masih sangat dipengaruhi oleh individualisme liuberal.Hal ini dikarenakan terutama pembelokan gerakan dan kekuatan konserfatif dominan dalam masyarakat dan secara umum telah membelokkan kepercayaan tentang aksi kolektif dan sebenarnya menjadi mampu untuk merubah sistem yang menindas perempuan.

Marilah kita bahas bersama trend feminisme itu:

Feminisme Marxis

Tak seperti feminisme liberal, feminis Marxis percaya bahwa kapitalisme hanya dapat membuat "sukses" untuk sejumlah kecil perempuan. Dan sejarahnya ia hanya membuat demikian dibawah tekanan dari bawah. Kesetaraan penuh bagi semua perempuan tak bisa dicapai di bawah kapitalisme. Pembebasan individual adalah mustahil karena seksisme adalah persoalan sosial yang berhembus dari penindasan institusional terhadap perempuan dalam kapitalisme.

Kapitalisme berdasarkan pada peranan sedikit orang yang berkuasa yang memiliki semua sumber ekonomi dan industri, diluar kita semua yang dipaksa untuk kerja upahan untuk hidup-kelas pekerja. Sistem ini alat untuk kebutuhan minoritas, untuk pengejaran keuntungan dan karenanya menimbulkan perampasan, eksploitasi, dan penindasan (dalam segala bentuk) dari mayoritas. Dan setiap institusi besarnya mendukung bahwa: pemerintah, keluarga, media, polisi, sistem pendidikan, dan sistem legal.

Sebenarnya, satu-satunya jalan bagi perempuan, dan semua kaum tertindas untuk memenagkan pembebasan adalah dengan melawan untuk sebuah sistem baru yang demokratik- masyarakat yang berfungsi untuk menemukan kebutuhan mayoritas orang dan lingkungan lebih baik dari minoritas yang haus keuntungan.

Satu-satunya kekuatan yang mampu untuk membuat masyarakat sosialis baru ini adala kelas pekerja, membuat semua kesejahteraan masyarakat. Pertempuran melawan penindasan lain yang memisahkan kelas pekerja-rasisme,seksisme, penindasan bangsa-adalah tak dapat dihindarai untuk menggulingkan kapitalisme karena kelas pekerja yang terbelah tidaklah cukup kuat untuk mengalahkan kelas kapitalis yang sedang berkuasa. Penindasan perempuan adalah bagian yang esensial dari sistem kapitalis.

Seksisme pernah dibenarkan, menopang suatu institusi yang penting bagi kapitalisme:keluarga. Keluarga mengizinkan kelas berkuasa untuk menghapuskan semua tanggung-jawab bagi kesejahteraan ekonomi dan perawatan pekerja mereka dan menimbulkan pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas dengan mengizinkan pemilikan properti dari satu generasi ke generasi lainnya dalam kelas mereka.

Unit keluarga individual menjaga para pekerja berkompetisi untuk bertahan hidup, mndorong pembagian sosial buruh berdasarkan penaklukan dan ketergantungan ekonomi perempuan, dan membantu untuk mensosialisasikan generasi baru dalam hubungan otoriterian hirarki yang diperlukan untuk membuat kelas pekrja tetap pasif.

Seksisme membuat perempuan bekerja keras mengurusi pekerjaan rumah tangga, semuanya dilakuakn dengan gratis. Ia menyebabkan majikan untuk menggaji perempuan lebih sedikit.

Semua perempuan tertindas sebagai perempuan, tetapi dampak penindasan itu berbeda bagi perempuan pada kelas yang berbeda.

Perjuangan seputar aspek-aspek spesifik dari penindasn perempuan memerlukan terlibatnya perempuan dari latar sosial berbeda. Tetapi gerakan masa pembebasan perempuan Marxis bertujuan untuk mendirikan akan menjadi dasar kelas pekerja dalam komposisi,orientasi, dan kepemimpinan karena hanya sebuah gerakan bisa meraih pembebasan perempuan sejati.

Gerakan feminis massa, yang berjuang bagi kesetaraan bagi semua perempuan, tak dapat dihindarkan lagi membutuhkan reorganisasi total dalam masyarakat dalam kepentingan minoritas, yaitu membuka kapitalisme.

Sebuah gerakan akan menuntut: hak bagi perempuan untuk mengontrol tubuh mereka sendiri: legal penuh, kesamaan politik dan sosial; hak untuk merdeka secara ekonomi dan kesetaraan, kesempatan studi yang setara,hak untuk bebas dari kekerasan dan eksploitasi, dan bebas dari penindasan seksualitas manusia.

Hanya masyarakat sosialis yang bisa memenuhi tuntutan ini: memindahkan paksaan ekonomi dibalik perbudakan perempuan dalam keluarga; mengambil pertanggung-jawaban sosial bagi tugas-tugas yang tadinya dilakuak dengan gratis oleh perempuan dalam rumah; memindahkan eksploitasi kelas.

Dibawah sosialisme sebagian besar manusia baik perempuan atau laki-laki akan menikmati eliminasi penindasan perempuan sebagaimana masih akan membiarkan perkembangan penuhhubungan kebutuhan manusia bebasa dari distorsi seksisme dan pengasingan seksualitas yang dibuat oleh masyarakat kelas.

Sosialisme juga satu-satunya sistem yang bia meniadakan penindasan lain yang diderita banyak perempuan, seperti rasisme, dan eksploitasi dunia ketiga oleh bangsa imperialis maju. Perempuan tak bisa memenagkan masyarakat baru inni dan pembebasan mereka tanpa bergabung dengan perjuangan pembebasan lain-dan dengan kelas pekerja secara keseluruhan.

Laki-laki sebagai individual maupunkelompok, mempunyaikepentingan material dalam dan menikmati penindasan terhadap perempuan. Sebagai kelamin mereka mempunyai akses yang lebih baik ke pendidikan,pekerjaan dan upah yang lebih baik; mereka tak memikul dua beban kerja upahan dan buruh domestik gratis; karena situasi ekonomi mereka yang lebih baikmereka mempunyai akses seksual terhafdap perempuan, melalui indistri seksual. Penindasan perempuan dalam masyarakat sosial membawa laki-laki menerima keistimewaan yang melembaga dan keuntuntungan terhadap perempuan.

Bagaimanapun penindasan perempuan berjalan memukul kepentingan kelas laki-laki kelas pekerja karena ia memisahkan kelas pekerja dan memperlemah kemampuan mereka untuk nberjuang dan menggulingkan sang penindas, kapitalis.

Tetapi sampai laki-laki kelas pekerja mengembangkan kesadaran kelas-sampai mereka menyadarikepentingan kelas mereka diatas kepentingan mereka sebagai individu, dan karenanya mengerti kebutuhan untuk bergabung dengan kaum feminis bertempur melawan seksisme- mereka akan meletakkan kepentingan mereka sebagai anggota kelas berkuasa dahulu.

Perjuangan Marxis untuk mengembangkan kesadaran ini dalam kelas pekerja karena analisis mereka membawa mereka untuk mengerti bahwa perjuangan oleh perempuan melawan penindas mereka sebagai perempuan dan perjuangan untuk menghilangkan ketidaaksetaran kels berjlan terus.

Tetapi ini bukan berarti bahwa perempuan harus menunda perjuangan mereka sampai "setelah revolusi". Sebalinya hubungan yang erat antara penindasan gender dan kelas memberikan kepada perjuangan sosialisme sebuah perjuangan terpadu juga: "tak ada revolusi sosialis tanpa pembebasan perempuan, tak ada pembebasan perempuan tanpa revolusi sosialis"

FEMINISME POST MODERN

Post modernisme adalah teori yang dihasilkan dari kemunduran dan demoralisasi:

Pelemahan gerakan pembebasan perempuan tahun 1970-an dan kemunduran yang luas dari gerakan kiri di seluruh dunia, setelah runtuhnya "komunisme di eropa timur dan Uni Soviet. Post modernisme adalah bentuk dimana liberalisme menemukan penyewaan baru pada hidup dinegara kapitalis maju sejak akhir 1980-an.

Pada tempat fokus gerakan pertama terhadap pengalaman umum perempuan terhadap penindasan, post modernisme menekankan perbedaan : perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan antara perempuan sendiri, bauk berdasarkan ras, kelas, agama, etnik atau psikologis.

Politik "perbedaan" mempertahankan bahwa karena mereka yang yang telah memimpin atas nama ilmu pengetahuan dan kemajuan di dalam masyarakat ini mempunyai kelompok marginal yang tereksploitasi (termasuk perempuan).

Menentang dirinya sendiri pada "penguniversalan" pengetahuan ilmiah dan pengalaman sejarah, feminisme post modern.

Menentang bahwa semua orang mengamati, mengerti dan merespon segala persoalan secara berbeda. Tak ada yang contoh mutlak dalam masyarakat. Secara khusus, dari kenyataan bahwa daya tangkap manusia dunia melalui perantaraan bahasa, post modernisme telah kenyataan menjadi ribuan pecahan.

Dalam prakteknya ini berarti bahwa setiap orang harus melakukan persoalan mereka sendiri, percaya dan menghargai individualitas dari pengalaman mereka dan ide-ide mereka, dan (seharusnya) menghormati individualitas orang yang lain. Penindasan ekonomi dan psikologi oleh semua perempuan dibagikan oleh semua perempuan keluaran dari keadaan.

Sementara Marxis juga akan bertanya netralitas dari ilmu pengetahuan atau alasan atau kemajuan dibawah kapitalisme, kita berfikir bahwa keadaan realitras objektif, sebagaimana ide-ide dan teori mampu menjelaskan hukum dengan siapa fungsi realitas objektif.Tujuan kita adalahuntuk mengenali dan mempelajari kenyatan ini dalam rangka untuk merubahnya.

Tetapi bagi kaum post modernis, pembebasan itu terpisah dari perjuangan lain untuk merubah masyarakat, dan menjadi perjuangan individual dan subjektif.

Terlebih, setiap seruan pada realitas objektif, termasukpengalaman umum, terlihat sebagai penindasan pandangan personal orang lain. Jadi berbicara penindasan sistematis atau kebutuhan untuk bersatu untuk melawannya disadari tak hanyatak dapat diminta tetapi penindasan.

Post modernisme adalah isu utama perdebatan pada konferensi NOWSA tahun 1994.Sementara banyak orang akan dengan bangga mencap dirinya sendiri sebagai post modernis sekarang, asumsi dasar entang post moderrnisme adalah hidup dalam studi perempuan dan diantara aktivis kampus.

Ide yang tak dapat kamu katakan bagi setiap kelompok yang tertindas bahw kamu bukanlah bagian dari ide bahwa hal yang terpenting untuk kamu lakukan adalah untuk "mendefinisikan"

Ide bahwa lebih penting untuk membicarakan seberapa berbedanya perempuan satu sama lain, dan bagaima perempuan kelas menengah kulit putih mendominasi gerakan, daripada membicarakan pengalaman umum perempuan dan apa yang harus dilakukan tentang itu;dan

Ide tentang bagaimana kmu rasa tentang hal-hal yang kamu lihat atau alami membedakan apakah itu penindasan atau bukan. Mengikuti kesimpulan logikal mereka, ide ini bermaksud bahwa setiapusaha untuk mengenali dan mengerti penindasan perempuan, dan untuk bersatu dan melawannya adalah pasti. Post modernisme mempunyai dampak destruktif ketika mendirikan gerakan melawan penindasan perempuan.

FEMINISME RADIKAL

Feminisme radikal berlawanan dengan individualismenya post modernisme, menawarkan analisis struktural terhadap penindasan perempuan dan solusi sosial-meskipun salah.

Feminiusme radikal mengatakan bahwa sistem dominasi laki-laki terhadap perempuan-apa yang mereka sebut "patriakal"-datang dari perbedaan biologi antara jenis kelamin,khususnya peran perempuan dalam reproduksi .

Perbedan essensial ini, kata mereka adalah basis material dari perempuan selalu dipandang dan diperrlakukan oleh laki-laki sebagai objek sosial.

Karena laki-laki tak mengalami penindasan kelamin, mereka tak akan mungkin mengerti dan secara konsisten berjuang untuk pembebasan perempuan. Dari kenyataan bahwa setiap laki-laki menikmati manfaatdari penindasan perempuan, mereka menyimpulkan bahwa laki-laki adalah sumber penindasan perempuan dan adalah musuh utama laki-laki.

Konklusi logis dari feminisme radikal adalah praktel politik yang terpisah, dimana pria mempunyai sedikit atau tidak peranan untuk dimainkan dalam pembebasan permpuan. Mereka menentang partisipasi laki-laki dalam rally-rally dan konferensi-konferensi menuntut hak perempuan , dan sering mengajukan lesbianisme sebagai seksualitas konsisten secara politik bagi kaum feminis.

Dalam masyarakat kapitalis, seksisme dijustifikasi oleh ide bahwa penindasan perempuan adalah alami atau tak dapat terhindarkan. Halini adalah dalam rangjka untuk menutupi struktur sosial yang menindas perempuan dan menumpulkan gerakan apapun dan merubahnya. Dengan melokalisir sumber penindasan perempuan dalam biologi perempuan dan laki-laki, feminisme radikal menerima ide bahwa seksisme itu tak terhindarkan dan dalam hal ini ia adalah juga politik kekalahan yang mendemoralisasikan gerakan feminis.

Dalam mencari solusi sebagai separatisme ia juga mengisolasi gerakan, baik dengan pengasingan dengan kelompok tertindas lain dan dari massa yang mendukung diantara perempuan.

Feminisme radikal sebagai trend telah ada sejak awal 1970-an, tetapi dalam menghadapi dominasi feminisme liberal dan membelokkan gerakan, ia muncul ke akademia dan studi perempuan. Sebagaimana feminisme liberal gagal untuk menghasilkan kesetaraan feminisme radikal menjelaskan tentang penindasan dan pembebasan perempuan telah dimunculkan kembali dan mempunyai seruan spesial yang mendesak bagi perempuan yang baru teradikalisir..

Karena sebagian besar perempuan langsung mengalami seksisme datang dari tangan laki-laki secara individual, atau karena mereka melihat kaum laki-laki menikmati penindasan perempuan dan status perempuan, ide bahwa pria adalah persoalan tak terhindarkan lagi menjadi kesimpulan bagi para feminis.

Tetapi dengan membangun teori yang secara biologis menunjukkan dominasi pria, feminis radikal gagal untuk menjelaskan karakter sosial penindasn perempuan. Hal ini mengabaikan kenyataan bahwa kelas pekerja perempuan dan laki-laki mempunyai kepentingan yang sama dalam menggulingkan masyarakat kapitalis.***

TENTANG POLITIK Mao Tje Tung

Diposting oleh Dipa nusantara arsyan ideology

Buku ini diterjemahkan menurut Pilihan Tulisan Mao Tje-tung jilid II dalam bahasa Tiongkok yang diterbitkan pada bulan Agustus 1952 oleh Pustaka Rakyat, Peking. [PENERBIT]. Dicetak di Republik Rakyat Tiongkok. Ini adalah sebuah petunjuk dalam Partai yang ditulis oleh Kawan Mao Tje-tung pada tanggal 25 Desember 1940 atas nama Central Comite Partai Komunis Tiongkok.

Panitia Penerbit Pilihan Tulisan Mao Tje-tung Central Comite Partai Komunis Tiongkok (PUSTAKA BAHASA ASING PEKING 1956)


DALAM keadaan kampanye anti-Komunis memuncak sekarang ini, politik kita mempunyai arti yang menentukan. Tetapi di kalangan kader kita, masih banyak yang tidak mengerti, bahwa politik Partai dewasa ini harus sangat berbeda dengan politik Partai pada masa Revolusi Agraria. Harus diketahui, bahwa selama masa Perang Melawan Agresi Jepang, baik dalam keadaan apapun, politik Partai kita yang berupa front persatuan nasional melawan agresi Jepang itu tetap tidak akan berubah, bahwa banyak politik dalam masa sepuluh tahun Revolusi Agraria dulu jangan dipakai begitu saja sekarang. Lebih2 banyak politik yang terlalu kiri pada masa akhir Revolusi Agraria--karena tidak tahu bahwa revolusi Tiongkok mengandung dua ciri pokok, yakni sebagai suatu revolusi borjuis demokratis di negeri setengah jajahan dan bersifat jangka panjang--bukan saja tidak dapat dipakai semuanya pada masa melawan agresi Jepang sekarang ini, malah salah juga pada waktu itu. Politik2 itu meliputi yang berikut misalnya: "pengepungan dan pembasmian" yang kelima kali dari Kuomintang dan perjuangan kontra "pengepungan dan pembasmian" dari kita yang kelima kali itu dinamakan perang yang menentukan antara garis revolusioner dengan garis kontra-revolusioner; pembasmian borjuasi dan tani kaya dari segi ekonomi (memperlakukan borjuasi dengan politik perburuhan dan politik pajak yang terlalu kiri, membagikan tanah yang buruk kepada tani kaya); pembasmian tuan tanah dari segi jasmani (tidak membagikan tanah kepada mereka); terhantamnya kaum intelek; penyelewengan "Kiri" dalam memberantas anasir kontra-revolusioner; monopoli anggota Komunis dalam seluruh pekerjaan pemerintahan; haluan Komunis untuk pendidikan rakyat; politik militer yang terlalu kiri (menyerang kota besar dan menolak perang gerilya); politik avontur dalam pekerjaan di daerah Putih dan politik main hantam di lapangan organisasi dalam Partai; dan lain2. Politik yang terlalu kiri ini merupakan kesalahan oportunisme "Kiri", persis kebalikan dengan oportunisme Kanan dibawah pimpinan Tjen Tu-siu pada masa akhir Revolusi Besar Pertama. Pada masa akhir Revolusi Besar Pertama, politik yang dipakai ialah bersatu dalam segala2nya dan menyangkal perjuangan; sedangkan pada masa akhir Revolusi Agraria, politik yang dipakai ialah berjuang dalam segala2nya dan menyangkal persatuan (kecuali dengan massa tani yang pokok); inilah contoh yang sangat menonjol yang memperlihatkan dua macam politik ekstrimis. Kedua politik ekstrimis ini mengakibatkan Partai dan revolusi menanggung kerugian yang besar sekali.

Politik front persatuan nasional melawan agresi Jepang sekarang ini bukanlah bersatu dalam segala2nya dan menyangkal perjuangan, juga bukanlah berjuang dalam segala2nya dan menyangkal persatuan, melainkan memadu persatuan dengan perjuangan. Konkritnya, politik itu sebagai berikut:

  1. Segenap rakyat yang melawan agresi Jepang itu bersatu (atau segenap buruh, petani, prajurit, pelajar dan pedagang yang melawan agresi Jepang itu bersatu) untuk menggalang front persatuan nasional melawan agresi Jepang.
  2. Politik merdeka dan bebas dalam front persatuan--harus bersatu, tetapi harus merdeka pula.
  3. Dilapangan strategi militer, politik ini berarti perang gerilya yang merdeka dan bebas dibawah kesatuan strategi; pokoknja perang gerilya, tetapi perang mobil tidak diabaikan juga jika keadaan menguntungkan.
  4. Dalam perjuangan menentang golongan kepala batu yang anti-Komunis, kita mempergunakan pertentangan, menarik jumlah yang terbesar, menentang jumlah yang terkecil, menghantjurkan lawan satu demi satu; kita harus beralasan, beruntung dan berbatas.
  5. di daerah pendudukan musuh dan di daerah kekuasaan Kuomintang, politik kita ialah, pada satu pihak, pekerjaan front persatuan dikembangkan. sedapat2nja, pada lain pihak, bersembunji lagi berefisiensi; dalam hal organisasi dan perjuangan, kita memakai politik: bersembunji lagi berefisiensi, bekerja dibawah tanah dalam waktu yang panjang, menimbun kekuatan, menunggu kesempatan.
  6. Mengenai hubungan antara berbagai klas dalam negeri, politik pokok kita ialah, mengembangkan kekuatan progresif, menarik kekuatan menengah, memencilkan kekuatan kepala batu yang anti-Komunis.
  7. Dalam menghadapi golongan kepala batu yang anti-Komunis, kita memakai politik mendua yang revolusioner, yakni politik bersatu dengan mereka apabila mereka masih dapat melawan agresi Jepang, dan memencilkan mereka apabila mereka keras2 menentang Komunis. Dalam melawan agresi Jepang, golongan kepala batu mendua pula sifatnya; kita memakai politik bersatu dengan mereka apabila mereka masih dapat melawan agresi Jepang, tetapi kita memakai politik menentang dan memencilkan mereka apabila mereka guncang (misalnya diam2 bersekongkol dengan agresor Jepang, tidak aktif melawan Wang Tjing-wéi dan pengkhianat yang lain2). Dalam menentang Komunis, golongan kepala batu mendua juga sifatnya. Maka politik kita harus juga mendua sifatnya, yakni kita memakai politik bersatu dengan mereka apabila mereka belum hendak mematahkan sama sekali tali kerja sama Kuomintang-Komunis, tetapi kita memakai politik menentang dan memencilkan mereka apabila mereka menjalankan politik penindasan yang se-wenang2 dan mengadakan serangan militer terhadap Partai kita dan rakyat. Golongan yang mendua sifatnya ini harus diperbedakan dengan kaum pengkhianat dan kaum pro-Jepang.
  8. Malah di kalangan kaum pengkhianat dan kaum pro-Jepang itu, ada juga anasir yang mendua sifatnya, yang harus kita hadapi dengan politik mendua juga yang bersifat revolusioner. Ini berarti, kita memakai politik menghantam dan memencilkan mereka apabila mereka pro-Jepang, dan memakai politik menarik dan merebut mereka apabila mereka guncang. Anasir yang mendua sifatnya ini harus diperbedakan dengan pengkhianat yang tegas, seperti Wang Tjing-wéi,1) Wang Ji-tang2) dan Se Ju-san.3)
  9. Pada satu pihak, tuan, tanah besar dan borjuasi besar yang pro-Jepang dan menentang perlawanan terhadap agresi Jepang itu harus diperbedakan dengan tuan tanah besar dan borjuasi besar yang pro-lnggeris-Amerika dan yang setudju dengan perlawanan terhadap agresi Jepang; pada lain pihak, tuan tanah besar dan borjuasi besar yang mendua sifatnya, yang setudju dengan perlawanan terhadap agresi Jepang tetapi guncang, setudju dengan persatuan tetapi menentang Komunis itu harus diperbedakan pula dengan golongan yang lebih kurang sifat menduanja, seperti borjuasi nasional, tuan tanah yang sedang dan kecil, sense progresif.4) Berdasarkan perbedaan inilah politik kita disusun. Berbagai macam politik tersebut semuanya berdasarkan perbedaan dalam hubungan klas itu.
  10. Demikian juga terhadap imperialis. Meskipun Partai Komunis menentang imperialis manapun, tetapi, pada satu pihak, imperialis Jepang yang sedang menyerang Tiongkok itu harus diperbedakan dengan imperialis yang lain2 yang sekarang tidak menyerang Tiongkok; pada lain pihak, imperialis Jerman dan Italia yang bersekutu dengan Jepang dan mengakui "Mantjoukuo" itu harus diperbedakan pula dengan imperialis Inggeris dan Amerika yang bertentangan dengan Jepang. Lagi pula, Inggeris dan Amerika yang dulu menganut politik Munchen di Timur Djauh sehingga merugikan perlawanan Tiongkok terhadap agresi Jepang itu, harus diperbedakan dengan Inggeris dan Amerika yang sekarang melepaskan politik tadi dan mengubah pendiriannja dengan menyokong perlawanan Tiongkok terhadap agresi Jepang. Prinsip taktik kita tetaplah mempergunakan pertentangan, menarik jumlah yang terbesar, menentang jumlah yang terkecil, menghantjurkan lawan satu demi satu. Dalam hal politik luar negeri, kita berbeda dengan Kuomintang. Bagi Kuomintang, "musuh hanya satu, yang lain semuanya teman"; pada lahirnya, ia memperlakukan semua negeri sama rata kecuali Jepang, sebenarnya ia pro-lnggeris dan pro Amerika. Bagi kita, harus tampak perbedaannya: pertama, Soviet Uni berbeda dengan negeri2 kapitalis; kedua, Inggeris dan Amerika berbeda dengan Jerman dan Italia; ketiga, rakyat Inggeris dan Amerika berbeda dengan pemerintah imperialis Inggeris dan Amerika; keempat, politik Inggeris-Amerika pada masa Munchen di Timur Djauh berbeda dengan politik mereka dewasa ini. Berdasarkan perbedaan inilah politik kita disusun. Garis asasi kita berbeda dengan garis asasi Kuomintang: kita menggunakan bantuan luar sedapat2nya dengan berpegang keras pada prinsip berperang dengan merdeka dan hidup atas usaha sendiri, tidak seperti Kuomintang yang bergantung pada bantuan luar dan bernaung dibawah blok imperialis manapun dengan melepaskan prinsip itu.

Banyak kader di dalam Partai berpandangan berat sebelah mengenai soal taktik sehingga menyeleweng kekiri atau kanan. Itu hanya dapat diatasi apabila mereka diharuskan mengerti perubahan dan perkembangan politik Partai dahulu dan sekarang secara lengkap dan sistematis. Pada dewasa ini, bahaja yang utama yang mengatjau dalam Partai tetap ialah pandangan terlalu kiri. di daerah kekuasaan Kuomintang, banyak orang tidak dapat dengan sungguh2 menjalankan politik2 bersembunji lagi berefisiensi, bekerja dibawah tanah dalam waktu yang panjang, menimbun kekuatan, menunggu kesempatan, karena politik anti-Komunis daripada Kuomintang itu dipandang mereka tidak hebat; disamping itu, ada pula banyak orang yang tidak dapat menjalankan politik mengembangkan pekerjaan front persatuan, karena Kuomintang dipandang mereka busuk seluruhnja begitu saja, sehingga mereka kehilangan akal sama sekali. Keadaan demikian terdapat juga di daerah pendudukan Jepang.

Pandangan kanan yang dulu pernah berpengaruh sehebat-hebatnya di daerah kekuasaan Kuomintang dan diberbagai daerah basis anti agresi Jepang, sekarang sudah diatasi pada pokoknja. Pandangan itu sebagai berikut: karena hanya tahu bersatu tetapi tidak tahu berjuang, dan karena terlampau tinggi menilai ketegasan Kuomintang melawan agresi Jepang, maka telah mengaburkan perbedaan prinsipiil antara Kuomintang dengan Partai Komunis, menyangkal politik merdeka dan bebas dalam front persatuan, me-nurut2i tuan tanah besar dan borjuasi besar, menurut-nuruti Kuomintang, sehingga mau mengikat tangan sendiri, tidak berani leluasa mengembangkan kekuatan revolusioner yang melawan agresi Jepang dan tidak berani tegas2 melawan politik Kuomintang yang menentang dan membatasi Komunis itu. Tetapi, sejak musim dingin tahun 1939, disana sini telah terdjadi penyelewengan terlalu kiri yang disebabkan karena Kuomintang mengadakan pergeseran anti-Komunis dan kita mengadakan perjuangan membela diri. Meskipun penyelewengan ini ada dibetulkan, tetapi masih belum seluruhnja, dan masih tampak dalam politik2 yang konkrit di banyak tempat. Maka, mempelajari dan menyelesaikan politik2 yang konkrit itu sangat perlu sekarang.

Tentang politik2 yang konkrit itu, telah ber-turut2 diberikan petunjuk oleh Central Comite, disini hanya beberapa saja yang kita tunjukkan dalam garis besar.

MENGENAI SUSUNAN KEKUASAAN POLITIK. Harus tegas dijalankan "sistem tiga tiga" -- orang Komunis hanya merupakan sepertiga dari jumlah anggota dalam badan kekuasaan politik, untuk menarik orang bukan Komunis yang besar jumlahnya itu duduk di dalamnya. Di-daerah2 seperti bagian utara Propinsi Tjiangsu yang baru mulai ditegakkan kekuasaan politik demokratis anti agresi Jepang, jumlah orang Komunis yang duduk dalam kekuasaan politik malah boleh kurang daripada sepertiga. Wakil borjuasi kecil, borjuasi nasional dan sense progresif, yang semuanya tidak giat anti-Komunis itu harus ditarik ke dalam badan2 pemerintahan maupun dalam badan2 perwakilan rakyat; orang Kuomintang yang tidak anti-Komunis itu harus diperkenankan duduk di dalamnya. Boleh juga diperkenankan sejumlah kecil anasir kanan duduk dalam badan perwakilan rakyat. Jangan sekali2 sampai Partai kita memborong segala sesuatu. Kita hanya merusakkan kediktatoran borjuasi komprador besar dan tuan tanah besar, dan bukan menggantinya dengan kediktatoran satu partai dari Partai Komunis.

MENGENAI POLITIK PERBURUHAN. Kegiatan buruh melawan agresi Jepang dapat dibangkitkan hanya apabila penghidupan mereka diperbaiki. Tetapi penyelewengan terlalu kiri harus dielakkan; jangan terlampau banyak menambah upah dan mengurangkan jam kerja. Dalam keadaan Tiongkok sekarang, sistem kerja delapan jam masih sukar diratakan. Dalam cabang produksi yang tertentu, sistem kerja sepuluh jam masih harus diijinkan. Untuk cabang produksi yang lain2, jam kerja harus ditentukan sesuai dengan keadaannya. Sesudah diikat kontrak antara buruh dan majikan, buruh harus mentaati disiplin kerja dan harus memungkinkan si kapitalis memperoleh keuntungan. Kalau tidak, pabrik akan gulung tikar, dan ini bukan saja tidak menguntungkan usaha melawan agresi Jepang, malah mencelakakan buruh sendiri juga. Lebih2 jangan kita ajukan tuntutan yang terlampau tinggi dalam memperbaiki penghidupan dan menaikkan upah kaum buruh didesa, kalau tidak, petani akan keberatan, buruh akan menganggur dan produksi akan merosot.

MENGENAI POLITIK AGRARIA. Harus diterangkan kepada anggota Partai dan petani, bahwa sekarang bukanlah waktu menjalankan revolusi agraria sampai urat akarnya, dan cara yang dipakai pada masa Revolusi Agraria dahulu tidak dapat dipakai lagi sekarang. Politik sekarang ialah, pada satu pihak, tuan tanah diharuskan menurunkan sewa tanah dan bunga, dengan demikian barulah kegiatan massa tani yang pokok untuk melawan agresi Jepang dapat dibangkitkan, tetapi penurunan itu jangan terlampau banyak juga. Pemungutan sewa tanah pada umumnja berdasarkan prinsip menurunkan sewa tanah 25%. Apabila massa menuntut persentase itu dinaikkan, boleh diambil perbandingan 60% atau 70% untuk petani sedangkan 40% atau 30% itu untuk tuan tanah, tetapi batas ini jangan dilampaui. Penurunan bunga itu jangan sampai memustahilkan pelaksanaan utang-piutang dalam masyarakat. Pada lain pihak, petani diharuskan membajar sewa tanah dan bunga, sedangkan tuan tanah tetap memiliki tanahnya dan harta bendanja yang lain. Janganlah bunga diturunkan sampai petani tidak mungkin mendapat pinjaman, janganlah utang petani yang lama itu dibereskan sampai tanahnya yang digadaikan kepada tuan tanah itu diambil kembali dengan cuma2.

MENGENAI POLITIK PAJAK. Pajak harus dibajar menurut penghasilan. Selain orang yang paling miskin yang harus dibebaskan dari pajak, semua rakyat yang mempunyai penghasilan, yakni lebih dari 80% penduduk termasuk buruh dan petani, harus memikul pajak negara. Beban itu tidak patut dipikulkan seluruhnja kepada tuan tanah dan kapitalis. Cara menjamin perbekalan tentara dengan menangkapi orang dan mendendanja itu harus dilarang. Tentang cara memungut pajak itu, sebelum kita menetapkan cara yang baru yang lebih cocok, cara lama daripada Kuomintang boleh dipakai dengan disertai perbaikan yang selayaknya.

MENGENAI POLITIK MEMBERANTAS AGEN MUSUH. Harus tegas ditindas pengkhianat dan anasir anti-Komunis yang keras kepala. Kalau tidak demikian, kekuatan revolusioner yang melawan agresi Jepang tidak dapat dibela. Tetapi, jangan se-kali2 terlampau banyak membunuh orang, jangan se-kali2 sampai kena orang yang tidak bersalah. Harus bermurah hati dalam memperlakukan anasir yang guncang di kalangan kaum reaksioner dan anasir yang mengikuti kaum reaksioner karena terantjam itu. Dalam memperlakukan pendjahat siapa saja, hukuman siksa harus dihapuskan dengan tegas; yang diutamakan ialah bukti dan jangan pertjaja begitu saja kepada pengakuan. Harus dipakai politik melepaskan semua tawanan dari tentara musuh, tentara boneka dan tentara anti-Komunis, kecuali orang yang sangat dikutuki massa, yang mesti dijatuhi hukuman mati dengan persetudjuan pihak atasan pula. Dari tawanan itu, harus ditarik sebanyak2nya orang yang sedikit banyak bersifat revolusioner, yang masuk tentara reaksioner karena terpaksa, supaya bekerja dalam tentara kita, sedangkan yang lain-lainnya dilepaskan semua. Apabila mereka tertawan lagi, dilepaskan lagi; janganlah mereka dihina, janganlah uang dan barang mereka diambil dan janganlah mereka disuruh mengaku salah, melainkan harus diperlakukan dengan tulus ikhlas dan ramah-tamah semuanya. Politik ini harus dipakai dalam memperlakukan mereka, biar betapa reaksioner mereka itu. Ini sangat berguna akan memencilkan kubu reaksioner. Kepada pengkhianat Partai, kecuali yang sangat terkukuk kejahatannya, hendaknya diberikan kesernpatan untuk membarui dirinja, dengan syarat dia tidak akan menentang Komunis lagi. Kalau dia bisa kembali mengikuti revolusi, dia masih boleh diterima, tetapi tidak diperkenankan masuk Partai lagi. Janganlah orang informasi Kuomintang yang biasa itu disamakan dengan mata2 Jepang dan pengkhianat, melainkan harus diperbedakan sifat kedua-duanya itu dan diperlakukan berlain2an. Keadaan kacau-balau seperti instansi atau organisasi mana saja boleh menangkap orang itu harus dilenjapkan; untuk menegakkan ketertiban revolusioner supaya melawan agresi Jepang, harus ditentukan, bahwa hanya instansi kehakiman dan instansi keamanan pemerintah saja yang berhak menangkap pendjahat, sedangkan tentara hanya berhak demikian dalam waktu perang saja.

MENGENAI HAK RAKYAT. Harus ditetapkan, bahwa semua tuan tanah dan kapitalis yang tidak menentang perlawanan terhadap agresi Jepang itu, sama dengan buruh dan petani mempunyai kebebasan pribadi, berhak atas harta bendanja, berhak memilih, mempunyai kebebasan berbicara, bersidang, mendirikan perkumpulan, berpikir dan menganut kepercayaan. Pemerintah hanya mengawasi anasir yang mengadakan sabot dan pemberontakan di daerah basis kita, sedangkan yang lain dilindungi semuanya, tidak diganggu.

MENGENAI POLITIK EKONOMI. Industri, pertanian dan perdagangan harus dikembangkan dengan giat. Kaum kapitalis daerah2 lain yang bersedia membuka perusahaan industri di daerah basis anti agresi Jepang ini harus ditarik. Perusahaan partikelir itu harus diberikan dorongan, sedang perusahaan negara hendaknya dipandang sebagai sebagian saja dari segenap perusahaan. Semua ini dimaksudkan untuk mencukupi kebutuhan kita atas usaha sendiri. Perusahaan apa saja yang berguna itu harus didjaga jangan sampai mengalami kerusakan. Politik bea dan politik moneter harus sesuai dan bukan berlawanan dengan garis pokok tentang pengembangan pertanian, industri dan perdagangan. Menyusun ekonomi diberbagai daerah basis dengan sungguh2, teliti dan bukan dengan sembarangan, supaya mencukupi kebutuhan kita atas usaha sendiri - inilah mata rantai pokok untuk mempertahankan daerah basis dalam jangka panjang.

MENGENAI POLITIK KEBUDAJAAN DAN PENDIDIKAN. Pokoknja ialah, rasa harga diri nasional di kalangan massa rakyat, serta pengetahuan dan ketjakapan mereka melawan agresi Jepang, harus ditingkatkan dan diratakan. Ahli pendidikan, pekerja kebudajaan, wartawan, sarjana dan ahli tehnik yang liberal dari kalangan borjuasi harus diperkenankan datang kedaerah basis untuk bekerja sama dengan kita, membuka sekolah, menerbitkan surat kabar dan menjalankan pekerjaan yang lain2. Semua anasir intelek yang agak aktif melawan Jepang harus ditarik masuk sekolah kita, diberikan latihan dalam jangka pendek, lalu disuruh turut dalam pekerjaan tentara, pemerintah dan sosial; mereka harus diterima dengan tidak segan2, diberikan tugas dan diangkat dengan tidak segan2. Jangan takut ini takut itu, atau takut anasir reaksioner akan menyelundup. Dengan tak terelakkan beberapa anasir semacam itu akan menyelundup, tetapi ada cukup waktu untuk menyikat mereka dalam proses pelajaran dan pekerjaan. Di setiap daerah basis, harus didirikan percetakan, diterbitkan buku dan surat kabar, didirikan instansi pembagi dan pengantar. di setiap daerah basis, sedapat mungkin harus dibuka sekolah kader yang besar2, makin besar dan banyak, makin baik.

MENGENAI POLITIK MILITER. Tentara Route Ke-8 dan Tentara Ke-4 Baru harus diperkembang sedapat2nya, karena kedua2 ini adalah kekuatan bersenjata rakyat Tiongkok yang paling boleh dipercayai dalam mengkonsekwenkan perlawanan nasional terhadap agresi Jepang. Terhadap tentara Kuomintang, kita harus tetap mengambil politik "jika kita tidak diserang, kita tidak akan menyerang", dan sedapat2nya berusaha bersahabat dengan mereka. Opsir2 Kuomintang dan Opsir2 tak berpartai yang bersimpati kepada kita itu harus ditarik sedapat mungkin ke dalam Tentara Route Ke-8 dan Tentara Ke-4 Baru, untuk memperkuat pembangunan tentara kita. Keadaan anggota Komunis menguasai segala2nya dalam tentara kita dengan jumlah yang terbanyak, harus diubah juga sekarang. Tentu, "sistem tiga tiga" tidak harus dipraktekkan dalam induk tentara kita, tetapi, asal hegemoni tentara tetap dipegang oleh Partai kita (ini tetap perlu, tidak boleh dilanggar), tak usahlah kita takut menarik simpatisan itu sebanyak2nya untuk turut serta dalam pembangunan tentara dilapangan militer dan tehnik. Pada dewasa ini, dasar Partai dan tentara kita dilapangan ideologi dan organisasi sudah terletak sekokoh-kokohnya, maka usaha menarik simpatisan (tentu bukan penyabot) sebanyak2nya itu bukan saja tidak berbahaya, malah tidak dapat ditiadakan untuk memperoleh simpati seluruh rakyat dari memperluas kekuatan revolusioner. Itulah sebabnya mengapa politik ini politik yang perlu.

Berbagai prinsip taktik dalam front persatuan dan politik2 konkrit yang ditetapkan berdasarkan prinsip ini sebagaimana yang dinyatakan tadi, harus dipraktekkan setegas-tegasnya oleh seluruh Partai. Oleh karena pada saat sekarang ini, agresor Jepang memperhebat agresinja terhadap Tiongkok, tuan tanah besar dan borjuasi besar dalam negeri menjalankan politik penindasan yang se-wenang2 dan melancarkan serangan militer yang semuanya anti-Komunis dan antirakyat, maka hanya dergan mempraktekkan prinsip2 taktik dan politik2 konkrit sebagai tersebut diatas barulah dapat kita mengkonsekwenkan perlawanan terhadap agresi Jepang, mengembangkan front persatuan, mentjapai simpati rakyat seluruh negeri dan mendatangkan perubahan situasi yang menguntungkan. Tetapi, dalam membetulkan kesalahan, kita harus bertindak selangkah demi selangkah, tidak boleh terlalu tergesa2, sehingga mengakibatkan hal2 yang tidak baik seperti: kader tidak senang, massa curiga, tuan tanah melancarkan serangan balas dan lain2.

Catatan:

1) Seorang kepala golongan pro-Jepang dalam Kuomintang. Sejak tahun 1931 ia selalu menganjurkan kompromi dengan imperialis Jepang. Pada bulan Desember 1938, ia meninggalkan Tjungtjing dan menyerah kepada agresor Jepang, dan kemudian membentuk pemerintah boneka di Nantjing.

2) Seorang birokrat besar dalam jaman Raja Perang Utara, juga seorang pengkhianat pro-Jepang. Ia dipakai oleh Tjiang Kai-sék sesudah Peristiwa Tiongkok Utara pada tahun 1935. Pada tahun 1938, ia menjadi boneka agresor Jepang di Tiongkok Utara dan dijadikan ketua "Komite Administrasi Tiongkok Utara".

3) Seorang bunglon di kalangan raja perang Kuomintang. Sesudah Perang Melawan Agresi Jepang meletus, ia menjadi panglima Grup Tentara Ke-10 Kuomintang dan bersekutu terutamanja dengan tentara Jepang di bagian selatan Propinsi Hepéi untuk menyerang Tentara Route Ke-8, merusakkan kekuasaan politik demokratis anti agresi Jepang, membunuh anggota2 Komunis dan orang2 progresif.

4) Sen ialah ikat pinggang yang dipakai oleh pamong praja pada jaman dulu, arti kiasannya orang yang pernah menjadi pamong praja; se ialah ningrat kecil yang tidak menjadi pamong praja dalam masyarakat feodal, arti kiasannja orang yang tahu baca. Dari itu, golongan klas berkuasa yang tidak duduk dalam pemerintah biasanya dinamakan sense. Sense progresif dimaksudkan sebagai golongan sense yang condong kepada perlawanan terhadap agresi Jepang.